Prisma

ASEAN: Kerjasama Bidang Industri

ASEAN sebagai suatu organisasi regional terbentuk 12 tahun yang lalu. Lima negara di Asia Tenggara merasakan kebutuhan untuk berkelompok dan bekerjasama dalam bidang ekonomi. Berbagai usaha telah dilakukan dalam bentuk kongkrit, di antaranya dalam bidang industri. Bagaimana kemung-kinan dan pelaksanaannya, serta bagaimana prospeknya?

Dalam bidang industri dua jalan telah ditempuh: pertama ialah jalan yang digariskan oleh negara ASEAN dalam bentuk proyek-proyek industri ASEAN; dan kedua ialah pendekatan yang telah dirintis oleh kalangan dunia usaha, khususnya ASEAN Chamber of Commerce and Industry (CCI) dengan mengembangkan konsep Industrial Complementation dan terbentuknya berbagai Industry Clubs. Dua pendekatan berbeda satu sama yang lainnya, meskipun pada hakekatnya tujuannya sama, yaitu meningkatkan perdagangan Inter-Regional antar negara ASEAN pada satu pihak, menuju pada kemandirian secara regional pada pihak lain. Di samping itu, kerjasama industri bertujuan untuk memperluas perdagangan Extra Regional ASEAN dalam arti kata perdagangan antar ASEAN dengan kelompok regional lainnya atau negara di luar ASEAN, seperti dengan EEC, Amerika Serikat dan Jepang.

Kerjasama industri, tidak dapat diabaikan kaitannya dengan perdagangan dan investasi, karena perdagangan menyangkut secara langsung pasaran bagi barang-barang yang dihasilkan oleh industri, sedangkan investasi harus dilihat dari berbagai sudut, di antaranya kebutuhan dan jumlah dana yang diperlukan untuk ditanam dalam berbagai proyek industri yang kongkrit dan berbagai aspek yang bersangkutan dengan viability daripada proyek industri tersebut untuk didirikan dalam kawasan ASEAN. Pertimbangan lokasi industri ada kaitannya pula dengan berbagai aspek spesifik lokasi (location specific) yang ditentukan oleh bermacam-macam faktor, seperti faktor sumberdaya alam (resources), ada tidaknya prasarana fisik yang sangat menentukan, tersedianya sarana-sarana lainnya yang menguntungkan, di samping faktor-faktor lain seperti pemasaran, tenagakerja yang terlatih (terampil), dan lain sebagainya.

Tulisan ini dititik-beratkan pada analisa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar dan sangat pokok. Dengan demikian dapat mendekati suatu kenyataan yang lebih realistis tanpa mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang lebih ideologis dan politis, di samping pertimbangan ekonomis-teknis dan teknologis belaka.

Proyek-proyek industri ASEAN

Negara-negara ASEAN telah menentukan lima proyek industri ASEAN, satu proyek untuk masing-masing negara: Indonesia: Proyek Urea di Aceh (pupuk); Malaysia: Proyek Urea (pupuk); Filipina: Proyek Pupuk Majemuk (pupuk); Muangthai: Proyek Soda-ash (kimia dasar); Singapura: Proyek Mesin Diesel (barang modal).

Sampai di mana keinginan negara ASEAN tersebut untuk mendirikan satu proyek industri untuk tiap negara, dapat dilaksanakan? Masalah-masalah apakah yang dihadapi dalam melaksanakan harapan mereka? Sampai dimanakah proyek-proyek tersebut dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari sudut jumlah modal yang harus ditanam dan keuntungan yang bisa diharapkan: keuntungan business di samping keuntungan sosial, politis dan ekonomis lainnya? Viability dari masing-masing proyek harus dapat diperhitungkan dalam jangka sekurang-kurangnya life-cycle proyek tersebut, di samping kelestariannya setelah proyek tersebut dapat membayar kembali modal investasinya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan