Membuka Ruang untuk Alternatif
POLEMIK yang berkembang seputar isu pendidikan di Indonesia belakangan ini semakin santer mencuat ke permukaan. Isu yang dewasa ini laris sebagai komoditi berbagai seminar, diskusi terbatas, serta refleksi-refleksi kecil pada berbagai suratkabar juga disoroti majalah Prisma dalam beberapa edisinya. Prisma mengangkat topik tersebut berturut-turut dalam edisi 1/1990, artikel 2/1991, 2/1993, 3/1994 dan 8/1994.1
Dalam komentar ini dipaparkan, di samping adanya kendala struktural berupa aspek finansial yang tidak memungkinkan penelitian dalam dunia pendidikan untuk mampu lebih terstimulasi — hal yang umumnya dijumpai di negeri berkembang — juga sebagian akibat kurangnya daya kreatif dari para pengamat. Artinya, terdapat kecenderungan para pakar pendidikan — tidak peduli apapun disiplin akademis dan keyakinan politiknya –, kalangan teknokrat, teknolog maupun ahli humaniora untuk menampik “realitas” di luar paradigma dominan.
Sikap monolitik dalam mendukung paradigma dominan (baca: paradigma neo-Klasik), menyebabkan diskursus tentang pendidikan acapkali dihantui “kegagalan” untuk membeberkan watak, karakter dan profil persoalan sebenarnya. Implikasi logis dari ketidakmampuan untuk memotret anatomi persoalan secara komprehensif itu adalah kaburnya bangunan pemikiran yang didesain untuk menetralisikannya. Asumsi-asumsi utama paradigma neo-Klasik seperti netralitas, obyektifitas, dan universalitas2 sangat berpengaruh dalam proses perumusan rekayasa perubahan sosial yang kerapkali diikuti penjiplakan secara kasar, bahkan tak jarang mentah-mentah, kinerja perubahan sosial masyarakat “Barat.” Akibatnya, desain perubahan sosial masyarakat kita ditancapkan di alas asumsi yang terancam bahaya “etnosentrisme” dan “subyektivisme” Barat — karena berproses dalam kerangka sejarah dan kultural tertentu–, justru ketika pikiran atau asumsi-asumsi subyektif itu diakui sebagai asumsi obyektif.
1 Edisi 1/1990 berjudul Universitas: Agen Atau Korban Pembangunan?; edisi 2/1991 memuat artikel Boediono dan Abbas Gozali, “Pendidikan dan Pergeseran Struktural dalam Periode Lepas Landas”; 2/1993 dengan tema Menanam Modal Manusia, Menuai Masa Depan; 3/1993, Ace Suryadi, “Sumber Daya Manusia pada PJP II”; 8/1994 memuat artikel Ace Suryadi, “Hubungan Antara Pendidikan Ekonomi dan Pengangguran Tenaga Kerja.”
2 Keprihatinan terhadap asumsi ilmu-ilmu sosial positivistik semacam ini juga menjadi bahan diskusi menarik di kalangan peneliti Amdal di Yogyakarta. Kajian-kajian AMDAL yang terutama berkaitan dengan dampak lingkungan sosial seringkali baru terpantau jika didekati secara kualitatif, multiparadigmatis dan subyektif. Kondisi ini juga dipicu situasi di mana banyak analisis berbagai proyek pendidikan acapkali tidak dinilai memiliki kadar kepentingan politik yang kental. Akibatnya, banyak peneliti Amdal — dalam hal ini termasuk pula bidang pendidikan sebagai bagian dari lingkungan sosial — tidak menentukan keberpihakan secara jelas. Agaknya pilihan atas watak dan karakter suatu paradigma akan menjadi bagian dari etika para peneliti ilmu sosial di masa depan.