Mengapa masyarakat Badui tak mengalami perubahan karena moderenitas? Dengan memahami budaya bermukim dan konsep hunian mereka, bisa dibangun suatu pemahaman yang lebih jauh dan mendalam terhadap ketercucilan itu. Terutama karena keterbatasan sumberdaya alam, peradaban orang Badui Dalam hampir tidak menghasilkan surplus pertanian untuk memupuk kekayaan. Akibatnya selama berabad-abad, tidak terjadi diferensiasi dan penjenjangan sosial, sehingga hubungan kuasanya menjadi relatif egaliter.
Pendahuluan
Maksud tulisan ini ialah membahas tradisi bermukim masyarakat Badui di tengah moderenitas pembangunan. Pembahasan difokuskan pada pertanyaan: mengapa karya bangunan mereka (Badui) secara seni dan teknik tidak berkembang lebih lanjut? Kemungkinan atau conjectures atas pertanyaan ini akan dibahas. Kegayutan bertempat tinggal dengan proses moderenitas pembangunan akan disoroti. Diharapkan, sorotan ini dapat membuka tabir anggapan tentang “sikap anti-teknologi dan sains” masyarakat Badui selama ini. Pemahaman ini mungkin bermanfaat sebagai cara mengoreksi penerapan teknologi dan moderenitas yang membabi buta. Pengalaman dan sikap masyarakat Badui dapat menjadi kritik terhadap masyarakat moderen. Bisa jadi, kita yang menyebut diri masyarakat moderen justru tidak memahami hakekat teknologi dan moderenitas. Apakah moderenitas merupakan jaminan kebahagiaan bertempat tinggal?
Kedudukan Penelitian Badui
Badui sebagai lokasi penelitian sudah dimulai oleh banyak peneliti sejak akhir abad lalu hingga kini.1Meskipun banyak dokumentasi berharga mengenai kebudayaan secara umum termasuk pemukimannya dikumpulkan, tapi yang memfokuskan pada budaya bermukim Badui, khususnya yang berkait dengan masalah moderenitas pembangunan, belum terarap. Yang dimaksud dengan budaya bermukim adalah suatu totalitas kehidupan manusia dalam suatu komunitas di suatu kawasan tertentu. Pengetahuan yang digali oleh penelitian budaya bermukim merujuk pada pertanyaan: apa dan bagaimanakah kaitan antara bermukim dan membangun, sehingga konsep hunian dan struktur-struktur maknawi pembentukannya terpahami? Pertanyaan semacam ini berangkat dari hipotesis bahwa menghuni dan membangun merupakan modus keberadaan manusia secara menetap di atas bumi dan di bawah langit.
Di antara berbagai penelitian dari disiplin lain tentang wilayah Kenekes, hingga kini penelitian antropologi sosial Badui merupakan bidang yang paling berkembang termasuk mengenai bangunan pemukimannya. Yang belum banyak dibahas para peneliti masyarakat Badui adalah analisis interdisiplin yang secara cermat dan mendalam mengungkap isi dan makna budaya bermukim mereka; khususnya menggali konsep-konsep yang tersirat dalam bahasa mereka dan perwujudan konsep-konsep itu dalam karya bangunan, pembuatan perkakas kesenian, kehidupan ritual dan kesehariannya. Dalam proses memahami budaya bermukim Badui, beberapa hasil penelitian perlu dicatat.2 Uraian deskriptif yang mendatangkan kehidupan sosial dan kemasyarakatan beserta tata nilai masyarakat Kenekes dari tulisan-tulisan pelajar Barat mengenai Badui3 menjadi bagian penting tulisan ini.
Walaupun demikian, posisi teoritis mengenai kebudayaan Badui dalam konteks sejarah dan moderenitas pembangunan beserta proses perubahannya, kurang mendapat perhatian. Bagaimana sebenarnya kebudayaan bermukim Badui itu? Mengapa mereka tidak begitu tertarik bahkan skeptis terhadap proses moderenisasi? Semua ini merupakan pertanyaan yang masih belum mendapat kajian yang memadai, sehingga pemahaman lanjut terhadap budaya mereka dapat memberi sumbangan positif dalam memikirkan kembali hakekat kemajuan moderen itu. Sumbangan berharga dalam mengerti masalah moderenisasi tanah Badui dari disiplin pertanian telah diberi kan4 melalui pemahaman ekosistem di kawasan Kenekes. Dikatakan dengan pola dan mekanisme kebudayaannya, studi tersebut membuka data-data yang lebih kuantitatif. Tapi hingga kini, posisi penelitian analitis/interpretatif mengenai kebudayaan Badui sendiri belum banyak dibuat. Terutama kalangan akademis belum banyak memberikan sumbangan teori dan rekomendasi praktis pada pembinaan interaksi dengan moderenitas. Penelitian dengan fokus perubahan sosial masyarakat Badui,5 juga belum banyak menggali berbagai masalah pokok yang dihadapi masyarakat Badui, seperti sikap dasar dan orientasi budaya, sehingga kaitannya dengan berbagai krisis yang akan dan sedang dihadapi Badui tidak terpapar.
* Penelitian lapangan untuk tulisan ini dimungkinkan dengan bantuan dan kerjasama Ir. Yuswadi Saliya M.Arch dan Ir. Riyadi Joedodibroto (Jurusan Teknik Arsitektur ITB). Penulis mengucapkan banyak terima kasih. Tulisan ini merupakan hasil revisi dari makalah yang disampaikan pada Seminar Arsitektur Etnik dalam rangka Dies Natalis Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, April 1991.
1 J.c van Ende, De Volken van Nederlandsch-Indie, Vol. 2 (Amsterdam: 1920/1921); Jul Jacobs and Meijer, de Badoejs’s (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1891); Judistira Garna, “Orang Baduy dari Kenekes, Banten Selatan, Jawa Barat,” makalah Universitas Pajajaran, Bandung, 1989.
2 Judistira Garna, “Tangtu Telu Jaro Tujuh: Kajian Struktural Masyarakat Baduy Kenekes, PhD. Thesis, Kualalumpur: Universitas Nasional Malaysia, 1988; Garna, 1989.
3 van Ende, op. cit; Jacobs and Meijer; op.cit; A.A. Pennings, “De Badoewi’s in verband met enkele oudheden in de Residentie Bantam,” Tijdschrift voor Bataviasche Genootschap, No. 45, Batavia, 1902, hal. 370-86; C.M. Pleyte, “Arca Domas, het Zielenland der Badoej’s,” dalam Tijdschrift voor Bataviasche Genootschap, No. 51, Batavia, 1910, hal. 494-526; C. Loubert, Eine Welt fur sich: Die Badui auf Java, (Jakarta: Ganesha Society, 1980).
4 Purnomohadi, “Sistem Interaksi Sosial-Ekonomi dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Masyarakat Baduy di Desa Kenekes, Banten Selatan”, Tesis Magister IPB, 1985.
5 Sumintardja, “The Badui of West Java on the Crossroads of Development,” dalam Prisma, No. 12, 1979, hal. 35-45; E. Soemantri (ed.), Masyarakat Baduy di Banten Selatan (Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran, 1985).