Prisma

Bahasa Indonesia dan Kelas Menengah Indonesia*

Sejauh ini, bahasa Melayu/Indonesia diadopsi oleh golongan yang beraspirasi kepada mereka yang berkuasa, dulu kaum kapitalis kolonial, dan sekarang kelas penguasa nasional yang memungkinkan berkembangnya kelas menengah baru di perkotaan. Kini, salah satu pertanyaan yang muncul adalah dapatkah semangat kerakyatan dan persamaan derajat yang pernah ada dalam bahasa Melayu/Indonesia di masa pergerakan nasional dikembalikan?

Gejala Pergeseran Bahasa

DALAM beberapa tahun terakhir ini, di kompleks-kompleks perumahan KPR-BTN (Kredit Pemilikan Rumah Bank Tabungan Negara) dan setarafnya di Surabaya dan sekitarnya, dapat diamati gejala pergeseran bahasa pada penghuninya, yang kebanyakan pindahan dari daerah perkampungan di tengah kota.


* Gagasan untuk tulisan ini mula-mula dipaparkan dalam diskusi di Balai Surabaya Post, Surabaya, Oktober 1985 (Dede Oetomo, “Munculnya sebuah Golongan Menengah di Indonesia: Indikator Kebahasaannya.” Naskah tak diterbitkan). Naskah itu, setelah diperbaiki, sempat saya ceramahkan di Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) Surabaya, Oktober 1986. Setelah diperbaiki lagi, maka naskah itu terbit sebagai “Bahasa dan Perubahan Sosial di Kota-kota Indonesia: Aspek Kebahasaan Stratifikasi Sosial” (Kritis 1, 3, hal 54-64). Pada musim panas 1988 saya berkesempatan menyampaikan gagasan yang sama dalam ceramah pada Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) di Universitas Hawaii, dan memperoleh masukan-masukan lebih lanjut. Tulisan ini pada pokoknya merupakan usaha menyempurnakan tulisan di Kritis itu, dengan ditambah pikiran-pikiran yang timbul setelah ceramah itu, dan setelah mengaji lebih lanjut sejarah pertumbuhan kelas menengah di Indonesia. Ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada Nicky Reiss, Veronika Suprapti, Ariel Heryanto dan Howard Dick, yang memberikan kritik maupun komentar pada buram-buram terdahulu. Untuk gagasan-gagasan mengenai bahasa dan kelas, saya berhutang budi pada Ben Anderson, yang membuka mata saya pada kaitan kedua hal itu ketika saya menyusun disertasi di bawah bimbingannya pada tahun 1983-1984. Untuk kritik-kritik yang tajam pada ceramah di SEASSI, saya sangat berterima kasih kepada Jeff Winters, Amrih Widodo, Tom Gibson dan Jim Collins. Akhirnya, terimakasih juga kepada kawan saya, Ruddy Mustapha, yang dengan kepekaannya sebagai dwibasawan Jawa-Indonesia memberi saya umpan untuk memikirkan apa-apa yang kemudian menjadi tulisan ini. Sudah barang tentu tanggungjawab terakhir ada pada saya pribadi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan