Prisma

Bangsawan yang Bersimpang Jalan*

Figur Soerjopranoto dalam panggung sejarah pergerakan kebangsaan merupakan suatu fenomena yang unik. Menurut Budiawan, keunikan itu terletak pada faktor genealogis yang menempatkannya sebagai seorang anak bangsawan namun memiliki visi populis. Karena visinya, dia memilih jalan yang menyimpang dari jalan yang ditempuh kaum bangsawan pada umumnya.

“SIAPA butuh titel Raden Mas, boleh ambil ini. Saya tidak butuh!”, teriak Soerjopranoto sambil mengacung-acungkan potongan papan namanya yang bertuliskan “R.M.” di depan openbare vergadering (rapat umum) Personeel Fabrieks Bond (PFB) atau Serikat Buruh Gula pada pertengahan 1920 di Yogyakarta.1

“Adegan” tersebut mungkin sulit dibayangkan. Bagaimana mungkin seorang bangsawan secara demonstratif mencampakkan atribut kebangsawanan-nya? Bukankah kebangsawanan pada masa itu identik dengan kehormatan dan keistimewaan? Ataukah pencampakan itu justeru merupakan simbol penolakan terhadap segala bentuk lahiriah yang melekat dan terkandung di dalam kebangsawanan? Kalau itu sebuah penolakan, mengapa? Mengapa sang bangsawan itu justeru meninggalkan dan menanggalkan segala privilese yang terkandung di dalam kebangsawanannya? Dengan kata lain, mengapa bersimpang jalan dari jalan yang ditempuh oleh para bangsawan Jawa pada zamannya? Apakah di dalam dirinya telah tumbuh suatu sikap tertentu terhadap jalan tersebut? Bagaimana proses pembentukan sikap itu? Akankah sikap itu bertahan sepanjang hayat? Maksudnya, adakah suatu konsistensi dalam menggenggam sikap itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya merupakan “kunci pembuka” yang sudah cukup “menggoda” untuk merunut jejak-jejak biografis sang bangsawan yang “aneh”, dalam arti unik, ini. Unik, karena hal itu bukan merupakan gejala yang khas atau lazim di lingkungan bangsawan Jawa pada zamannya: zaman yang ditandai oleh paradoks antara tuntutan normatif (das Sollen) dan realitas laku hidup (das Sein) para bangsawan.

Memang keunikan senantiasa ada di dalam setiap individu. Namun keunikan yang otentik hanyalah tumbuh di dalam diri individu yang berani menentukan arah dan pilihannya sendiri, dan juga berani menghadapi segala konsekuensi yang diakibatkannya. Dalam konteks inilah psiko-histori Soerjopranoto hendak ditempatkan.


* Artikel ini merupakan ringkasan skripsi penulis. Terima kasih kepada DR Kuntowijoyo yang telah membimbing penulisan skripsi tersebut.

1 Bambang S. Dewantara, Raja Mogok R.M. Soerjopranoto: Sebuah Buku Kenangan, Jakarta: Hasta Mitra, 1983, hal. 19.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan