
Fratces Moore Lappe et al., Aid as Obstacle Twenty Questions about our Foreign Aid and the Hungry, Institute for Food and Development Policy.
Dua puluh masalah itu sekedar dokumen bocah, tetapi Aid as Obstacle menerapkan format ini pada masalah-masalah dunia nyata tentang pembangunan dan tentang bantuan luar negeri. Masalah ini patut mendapat tanggapan yang lebih baik. Banyak di antara kerugian dan kelemahan bantuan luar negeri yang secara besar-besaran itu telah disingkap, tetapi alasan-alasannya tidak dikaji dengan cermat dan tidak pula dibuktikan. Pembaca bahkan dihadapkan kepada barisade fakta-fakta yang ditarik lepas dari konteks, pendapat yang negatif, interpretasi-interpretasi yang berat-sebelah, dan propaganda ideologi bangsa, kritik bermanfaat atas bantuan luar negeri tersebut hampir tak dapat dipisahkan dan ditanggapi dengan bersungguh-sungguh.
Menurut pandangan para penulisnya, lalu-lintas dari ladang ke pasar menjadi wahana untuk menindas si miskin di desa (halaman 19); huller-huller padi secara mekanik itu mencampakkan wanita-wanita desa dari pekerjaan yang sangat berjasa baginya; perbaikan lorong-lorong ladang itu menguntungkan para penghuninya; kredit hanya bermanfaat bagi mereka yang dapat menggunakannya secara efektif dan dengan demikian tidak bagi si miskin yang sebenarnya (halaman 58-65); bantuan pangan digunakan hampir untuk apapun juga kecuali untuk penyediaan pangan (halaman 93). Itu semua dan banyak lagi penilaian negatif yang keji lainnya serta interpretasi-interpretasi yang jelas berpangkal pada pendapat bahwa “tiada pembangunan yang netral; perluasan di satu sektor hampir selalu menuntut tebusan dari yang lain.” Dengan kata lain, “manakala ada yang beruntung ada yang buntung” (halaman 47).