Prisma

Beberapa Catatan tentang Wanita dan Gerakan Emansipasi di Jerman Barat

Sejak lama kaum wanita muda di negara-negara maju berusaha secara radikal menentang prasangka dan pembedaan norma, kesempatan dan kondisi kehidupan yang tidak adil bagi kaumnya. Meskipun menurut hukum di kebanyakan negara-negara Eropa, kaum wanita dinyatakan memiliki hak yang sama dengan kaum pria—yang untuk sebagian merupakan hasil dari pergerakan wanita pada masa-masa sebelumnya—namun gerakan politik radikal kaum wanita masih menyuarakan adanya berbagai ketidak samaan dan hambatan-hambatan bagi kaumnya. Kaum wanita sejak kecil dipersiapkan untuk berperan sebagai ibu dan pengelola rumah-tangga. Sebaliknya, dari alat-alat permainan dan hadiah-hadiah saja, sudah tampak benar bahwa anak laki-laki memang sejak kecil dididik untuk mengembangkan kreativitasnya dan dibimbing ke arah pemilihan suatu profesi. Tugasnya sebagai ayah sama sekali tidak pernah disinggung. Untuk menunjukkan betapa sistem pendidikan di beberapa sekolah di Jerman Barat kurang memperhatikan kepentingan anak-anak perempuan, Maria Boris mengutip dari sebuah majalah pendidikan di negara bagian Noedrhein Westfallen sebagai berikut:

Pendidikan dan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan garis hidup masing-masing jenis kelamin. Seorang gadis bukan semata-mata seorang anak, melainkan juga seorang puteri dan kakak; di kemudian hari ia menjadi ibu atau memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan sifat kewanitaannya. Oleh karena itu, seorang gadis haruslah dididik sesuai dengan martabat, bakat dan tugasnya sebagai wanita.1


1 “Die Schule in Nordrhein Westfalen”, kutipan dalam Alice Schwarzer (ed.) Frauenarbeit und Frauenbefreiung Schurkamp Verlag, Frankfurt 1973.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan