Prisma

Beberapa Faktor Yang Menyebabkan Sistem Monetar Internasional Mudah Gancang

1. Pendahuluan

Sejak beberapa tahun belakangan ini frekwensi berlakunya krisis moneter melonjak dengan sangat drastis sekali. Sudah sejak lama diadakan usaha-usaha untuk mengatasi krisis-krisis moneter tersebut dan beberapa cara telah ditempuh untuk memecahkan masalahnya, tetapi hasil yang memuaskan dari usaha ini belumlah diperoleh.

Betapa usaha-usaha untuk menyelesaikannya telah dijalankan dapat dilihat dari peristiwa devaluasi atau revaluasi maupun pengapungan nilai mata uang yang telah banyak dijalankan dalam beberapa tahun belakangan ini. Sejak tahun 1969 mata uang Jerman telah beberapa kali dinaikkan nilainya terhadap dollar (revaluasi). Jepang juga telah mengadakan revaluasi mata uangnya terhadap dollar dan diramalkan akan menjalankan nyata lagi apabila pengambangan mata uangnya yang sekarang ini dijalankan, akan dihentikan. Di fihak lain Amerika Serikat sejak akhir tahun 1971 telah mengadakan devaluasi atas mata uangnya sebanyak dua kali11. Devaluasi yang kedua yang terjadi dalam bulan Februari yang lalu, ternyata masih belum dapat mengatasi krisis yang terjadi sehingga pada bulan Maret yang lalu timbul satu krisis moneter baru dan mengakibatkan ditutupnya berbagai pasaran uang asing di beberapa negara. Akhirnya krisis moneter yang paling baru ini diatasi dengan menjalankan pengambangan bersama (joint float) dari beberapa mata uang negara Eropa.

Satu tanda tanya penting yang timbul sebagai akibat dari bertambahnya frekwensi dari peristiwa krisis moneter ini ialah: apakah sebabnya pada beberapa tahun belakangan ini krisis moneter makin bertambah sering terjadinya sedang permasalahannya menjadi bertambah pelik?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan