Pasca Swasembada Beras ditandai oleh beberapa perubahan mendasar. Produksi dan produsen padi kini telah menyebar ke berbagai daerah di luar Jawa. Frekuensi panen menjadi lebih banyak dan terus menerus, baik antardaerah maupun pada suatu daerah. Status penguasaan tanah pun berubah dalam bentuk keluarnya banyak rumah tangga tani skala kecil dari sektor pertanian mencari kegiatan di sektor nonpertanian. Pengeluaran konsumsi untuk padi-padian (terutama beras) secara relatif cenderung menurun, walaupun konsumsi secara absolut tetap bertambah. Permintaan terhadap beras sampai sekarang tetap besar.
Tercapainya swasembada beras sejak tahun 1984, telah membalikkan situasi Indonesia, yang semula dikenal sebagai negeri pengimport beras terbesar di dunia menjadi negeri yang mampu berswasembada bahkan mampu mengekspor berasnya ke negeri lain. Komoditi beras bagi masyarakat Indonesia bukan saja merupakan bahan pangan pokok, tetapi merupakan komoditi yang mempengaruhi kehidupan sosial lainnya. Dalam strategi pangan, program pengadaan beras menjadi prioritas utama pemerintah sejak dulu, seperti ‘Rencana Wicaksono’, ‘Rencana Kasimo’, ‘Rencana Kesejahteraan Istimewa (1945-1960)’; kemudian dilanjutkan ‘Gerakan Swasembada Beras’, ‘Komando Gerakan Operasi Makmur (KOGM)’, serta program BIMAS, INMAS, INSUS pada masa Orde Baru. Sejak saat inilah upaya penyediaan pangan sangat ditekankan pada produksi dalam negeri; sementara itu kegiatan impor bersifat pelengkap. Penyebaran penyediaan beras (pangan) dikaitkan dengan penerapan konsep ketahanan nasional dan pembinaan logistik wilayah, sehingga pada prinsipnya setiap daerah harus mampu mencukupi kebutuhannya.
Soekartawi Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Soekartawi, lahir di Sidoarjo, 1 Agustus 1947. Meraih gelar Sarjana Pertanian (1974) dari Universitas Brawijaya, Malang; Gelar MS Ekonomi Pertanian (1977) dari Institut Pertanian Bogor; Ph.D. (1985) dalam bidang Agro Economics and Business Management, dari Faculty of Economics University of New England. Mengikuti berbagai Advances Training di luar negeri.
* Artikel ini merupakan perbaikan dari makalah kedua penulis, Beberapa Perubahan Mendasar Masalah Perberasan di Indonesia, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Mimeograph, 1993) dan Soekartawi (1993), Perberasan di Indonesia Pasca Swasembada, Makalah disampaikan pada Simposium Pangan Nasional III yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Departemen Pertanian 23-25 Agustus 1993.