Kegelisahan seekor induk ayam sudah terobati ketika semua anak-anaknya bercericitan di seputar kelepak sayapnya. Telah cukup buat ayam bila mereka sudah berkumpul. Bukan urusannya lagi untuk bertanya buat apa berkumpul. Karena itu kita berkata bahwa hewan tidak memiliki dimensi tempat (space). Ia hanya memiliki habitat, tempat berdiri, tidur, makan, berkelamin, berbiak, lantas mati. Dan dia pun tidak membutuhkan kesadaran tempat. Dia tidak mempersoalkan mengapa harus di sini, mengapa harus di sana. Hidupnya hanya mencemplung ke dalam ruang. Dan orang katakan hewan itu a-spasial. Karena itu sudah cukup baginya kalau sudah berkumpul.
Tetapi manusia ingin lebih dari itu. Perkumpulan fisik hanyalah sebuah prasyarat, prakondisi, untuk sebuah kebutuhan yang lebih jauh yaitu bertemu. Contoh paling sempurna adalah pertemuan antar suami dan isteri. Di balik persentuhan kulit, mata, suatu kesadaran baru membuka lebar: kesadaran bahwa dalam satu keseutuhan akan menjalani hidup.
Universitas-universitas senantiasa merencanakan tempat berkumpul. Banyak biaya dihabiskan untuk menyatukan semua gedung-gedung yang berserakan ke dalam satu tempat. Sehingga yang kelihatan bukanlah multi-versitas tetapi uni-versitas. Kalau perlu menjadi kampus universitas terbesar di Asia Tenggara! Tetapi keberhasilan semacam itu hanyalah sebuah perkumpulan fisik. Dia hanya berarti bagi suatu pertemuan bilamana di dalamnya tumbuh suatu kesadaran baru: disanalah titik temu antara fakultas dan fakultas, fakultas teknologi dan sosial; di sana tumbuh kesadaran baru bahwa dalam dunia ilmu kita saling membutuhkan. Perkembangan ilmu pun sudah mendorong ke arah itu. Tidak ada ilmu teknologi dan eksakta yang tidak membutuhkan ilmu sosial. Tidak ada ilmu sosial yang tidak membutuhkan ilmu-ilmu eksakta. Mungkin karena itu pula timbul gagasan bahwa sebaiknya fakultas kedokteran dibuka bagi jurusan sosial.
Beberapa tahun yang lalu semua merencanakan dan mendirikan apa yang disebut center of excellence, pusat kemegahan, pusat percontohan sistem pendidikan tinggi yang terdiri dari beberapa universitas terkemuka. Tetapi nama yang megah membebankan tugas dan tanggungjawab. Hasil yang tidak mengimbangi nama besarnya menyebabkan istilah itu dikubur. Pusat kemegahan diganti dengan nama yang lebih merendah Sekretariat Kerjasama Lima Universitas (Skalu), lima universitas terkemuka berkumpul. Mungkin semuanya berhasil untuk berkumpul tetapi dirasa gagal bertemu. Karena itu kelima-limanya memutuskan untuk mendirikan suatu yang baru lagi dengan aturan permainan baru dan muncullah Skalu plus. Apa pun yang diperoleh, semua usaha untuk berkumpul tidak mencapai sasarannya bila tidak mampu menghasilkan suatu pertemuan. Pertemuan yang benar akan membangkitkan kesadaran baru dalam kalangan komponen utama perguruan tinggi yaitu mahasiswa dan para dosen. Di sana tidak berlangsung suasana otoriter. Di sana bisa ditangkis tuduhan bahwa hubungan di dalam universitas diatur oleh dictatorship of examinations and dictatorship of professordom! Diktator ujian dan sistem saringan yang tidak jarang membuang yang bernas dan menampung ampas. Diktator professorat yang mementingkan tata susunan birokratisme dan bukannya mutu. Di sana lahir kesadaran baru bahwa aku (professor) membutuhkan kau (mahasiswa) dan kau membutuhkan aku dan kita sama-sama belajar. Dalam kesadaran baru fakultas eksakta mengatakan bahwa aku membutuhkan yang sosial dan sebaliknya. Universitas yang satu membutuhkan universitas yang lain. Dalam kesadaran baru semua berprinsip: aku membutuhkan kau dan kau membutuhkan aku. Dan ketika kau bersama aku, kita sama-sama merangkaki realita kelam untuk memahami yang tak terpahamkan. Bukankah itu salah satu tujuan universitas?