Ketiga istilah di atas merupakan konsep yang bertentangan tapi bersambungan, sama halnya dengan pertentangan dan persambungan antara siang dan malam. Ketiga konsep itu semestinya diterangkan lebih dulu.
Pengertian betina yang digunakan di sini lebih berakar pada pengertian yang lebih umum dalam bahasa Melayu/Indonesia. “Betina” lebih dihubungkan dengan binatang, yaitu sebagai lawan dari kata “jantan“—pertentangan ini berubah menjadi “perempuan” X “laki-laki” pada manusia.
Dengan menghubungkan “betina” kepada binatang, maka kemungkinan arti betina yang digunakan di sini tak mungkin terlepas dari hubungan itu—dalam hubungan ini sengaja diabaikan arti “betina” yang sama dengan penakut. Dengan mengatakan seseorang sebagai betina, maka kita mungkin lebih menghubungkannya dengan dunia kebinatangan. Ia mungkin mempunyai naluri kebinatangan. Dan dalam hubungan seks, ia lebih mementingkan “kepuasan seks”. Perbuatan seks baginya lebih merupakan pemuasan naluri seks. Ia tak perlu diformalkan melalui suatu perkawinan. Ia tak perlu dilembagakan. Bahkan ia mungkin dilakukan tanpa ada pernyataan cinta, sebagaimana yang berlaku antara Hazil dan Fatma pada Jalan Tak Ada Ujung dari Mochtar Lubis. Karena itu, Motinggo Boesje sengaja membedakan antara “betina” dan “perempuan“, sebagai terlihat pada kutipan ini:
“Baginya, isterinya itu bukan betina saja. Tapi adalah perempuan.”1
Bagi Motinggo, “betina” lebih merupakan alat pemuas seks, sedangkan “perempuan” adalah bagian dari suatu kehidupan rumahtangga yang keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang padat. Ada semacam anggapan bahwa manusia yang kita namakan sebagai “perempuan” merupakan ratu rumahtangga, sesuai dengan kemungkinan etimologinya, yang dikatakan orang dari kata mpu.
Pengertian yang kira-kira dapat ditangkap dari apa yang dikatakan Motinggo Boesje tadi mungkin dapat digunakan untuk pengertian perempuan yang digunakan di sini.
Dalam pengertian perempuan ada pengertian pe(ng)rumahan. Barangkali ini dapat diterangkan dengan mengutip apa yang dikatakan oleh Elizabeth Janeway:
- “Rumah menjadi rumah dengan memisahkan diri dari dunia kerja dan berubah menjadi benteng kehidupan keluarga dan rekreasi.” b. “Dengan itu lahirlah gambaran ‘tempat wanita’ yang kita anggap tradisional…”2
Perempuan jinya hanya merupakan bagian dari suatu kehidupan rumah, terpisah dari dunia luar rumah-bekerja dan bermain—sehingga ia juga mungkin wujud dalam bentuk pemingitan. Perempuan lebih bertugas untuk melayani lelaki (=suaminya) dan diresmikan menjadi “milik“-nya melalui perkawinan. Dan unsur “pemilikan” dan peresmian ini yang tak kita jumpai dalam hubungan penggunaan istilah betina. Di samping itu, pengertian pelayanan dalam hubungan istilah betina berhubungan dengan pelayanan sex belaka, sedangkan dalam hubungan istilah perempuan meliputi seluruh kehidupan—umur dan aspek kehidupan.
Akibat selanjutnya daripada sistem ini ialah penglahiran anak, karena perempuan juga bertugas untuk melahirkan keturunan, bahkan ini mungkin merupakan tugas utamanya.
1 Motinggo Boesje, Perempuan Itu Bernama Barabah, hal. 9.
2 Elizabeth Janeway, Dunia Pria, Tempat Wanita, (Penguin, 1977), hal. 17.