Prisma

Bila Ibunda Membesarkan*

Suatu malam di tahun 1965. Di saat keluargaku sedang dalam suasana berkabung atas meninggalnya adik kami yang bungsu, suasana sunyi dan sepi kala kami sekeluarga sedang lelap tertidur itu dipecahkan oleh suara pintu rumah yang digedor orang dengan kerasnya. Kami sekeluarga terjaga dari tidur, karena kerasnya bunyi ketukan tersebut. Bapak berunding sebentar dengan ibu sebelum ia membukakan pintu, dengan awasnya ia melangkah dan membuka pintu. Suatu pemandangan yang mengejutkan dan mengerikan terpampang di hadapan kami, setelah pintu terbuka. Di ambang pintu, duduk setengah berdiri dalam posisi siap menembak, beberapa orang polisi, tentara, dan polisi militer, dengan laras senjata yang diarahkan ke kami sekeluarga. “Bapak kami tahan” ujar salah seorang dari mereka, dan langsung menggeledah rumah kami. Pemeriksaan dibagi-bagi per kelompok, mulai dari ruang tamu, kamar-kamar tidur, dapur, WC, loteng rumah, pokoknya tak sejengkalpun yang lewat dari pemeriksaan.

Saya bersama kakak berdiri gemetaran dekat bapak. Ibu yang sedang hamil menangis duduk memeluk ketiga adikku yang juga menangis mengikutinya.

Setelah beberapa saat lamanya mereka memeriksa rumah, tentara-tentara yang memeriksa itu melaporkan hasil pemeriksaannya kepada komandan yang berdiri sejak tadi dekat ayah. Sesudah menerima hasil laporan anak buahnya, komandan yang agak gendut itu menepuk-nepuk pundak bapak perlahan sambil mengatakan sesuatu di-ikuti dengan anggukan perlahan oleh bapak pula. Kemudian ia melangkah lagi menghampiri ibu yang tengah terisak-isak, lalu menghormati dengan sikap sempurnanya tentara. Iapun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan terhadap bapak yaitu menepuk pundak ibu dan mengatakan sesuatu, lalu meminta diri hendak pergi.

Sebelum meninggalkan kami bapak menyalami dan menciumi kami satu persatu, mulai dari adik perempuan yang satu-satunya sampai terakhir ibu yang disertai pesan agar ibu mau menjaga kami dengan baik selama ia tidak ada di rumah. Ibu hanya mengangguk-angguk saja, dan air matanya terus bercucuran mengguyur tubuhnya.

Bapak ke luar dari rumah dikelilingi tentara-tentara tadi. Ia melangkah dengannya, seakan tidak terjadi sesuatu dengannya. Saya menjadi kagum melihat sifat ketenangannya itu dalam hati. Kami semua berharap agar sebelum menaiki mobil bapak memalingkan mukanya melihat kami, ternyata sampai mobil berjalan, melirikpun tidak ia lakukan. Mungkin karena ia tak sanggup menahan dirinya nanti apabila membayangkan perpisahan itu, ataukah yang lain, aku tak tahu.

Air mata kami sekeluarga belum kering lagi, setelah kepergian adik menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa, kini dibanjiri dengan air mata perpisahan lagi.

Sejak saat itu, malang demi malang datang menyalami kami silih berganti. Empat orang sanak keluarga bapak yang dipelihara sejak kecil, diberikan pekerjaan di toko kepunyaan bapak pergi satu persatu, dengan tidak lupa membawa isi toko. Yang lebih kejam lagi, salah seorang dari mereka bahkan sampai hati menjual toko bapak.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, dikotaku terjadi demonstrasi. Mereka melempari toko-toko, pasar dan merusak apa saja yang dianggap penghalang cita-citanya. Rumah tempat tinggal kami yang satu-satunya tak luput dari gerakan mereka. Mereka semua pergi dengan puas, setelah rumah kami menjadi rata dengan tanah. Ibu baru muncul dari pasar dengan tangan kosong (pasarpun diratakan), setelah para demonstran pergi. Ia menjerit histeris lalu jatuh pingsan di tengah puing-puing rumah yang berserakan.

*Sengaja kupersembahkan karyaku ini buat bunda pertiwi, semoga informasiku dapat berguna bagi nusa dan bangsa terutama kepada generasi yang akan datang. Juga sebagai tanda terimakasihkku buat ibunda tercinta di kampung halaman, yang telah melahirkan dan mendidikku hingga mengetahui apa tujuan hidup ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan