Dari Kiri ke Kanan
Sebagai seorang politikus, figur Adam Malik tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sikap dan tingkah laku politiknya sebelum dan ketika memasuki Orde Baru. Meskipun pendulum “Kiri” dan “Kanan” kerapkali diabaikannya, dia tetap konsisten pada istilah bahwa “Semua Bisa Diatur.” Dia adalah satu dari sedikit tokoh yang mampu bertahan dalam dua ruang waktu yang sangat menentukan.
BAGAIMANAKAH mendudukkan seorang tokoh dalam konteks sejarah? Para sejarawan non-marxian umumnya sepakat, bahwa individu (tokoh) berperan penting dalam menentukan arah sejarah, baik dalam skala lokal maupun universal. Dalam anutan semacam ini, maka peristiwa sejarah adalah “hasil” peran tokoh yang menentukannya. Namun, sejarawan marxian menempatkan “peran sejarah” seorang tokoh sebagai hasil bentukan daya-daya struktural-historis, yang sesungguhnya menentukan arah perkembangan sejarah itu sendiri. Seorang tokoh sejarah menjadi “tokoh” karena ditokohkan, dan sifatnya situasional. Dalam dilema seperti inilah terletak posisi kajian kritis atas tokoh semacam Adam Malik.1n^$1^n$^ Barangkali, solusi akademik dapat dilakukan dengan menempatkan figur Adam Malik di dalam konteks arus sejarah-politik.
Sebagai sebuah “pengantar biografi politik,” tulisan ini memerlukan perangkat analisis yang dapat mempertautkan perkembangan intelektual-psikologis pelaku dengan nuansa lingkungannya, baik dalam lingkup terkecil (keluarga, peer group dan sebagainya) maupun dalam lingkup yang sangat luas (negara, bahkan dunia internasional). Dalam konteks inilah penulis menggunakan pemilahan konseptual klasik mengenai politik “Kiri” dan “Kanan.” Sebagai rentang dari spektrum linier pandangan, sikap, dan tindakan, maka Kiri mewakili “radikalisme” dan Kanan mewakili konservatisme. Barangkali, penggunaan konsep ini sudah tidak lagi memadai, namun masih tetap relevan sebagai pembalut sekaligus pemilah konseptual dalam rentang kehidupan Adam Malik. Hampir seluruh kehidupan tokoh puncak sejarah Indonesia ini dipengaruhi oleh tarik ulur ideologi Kiri dan Kanan, menurut pengertian pada masanya.
* Tokoh Adam Malik pernah ditulis oleh Manuel Kaisiepo dalam Prisma No. 11, Tahun 1984. Penulis dalam hal ini mencoba untuk “melengkapinya” dari sisi lain.
1 Lihat, misalnya, F.R. Ankersmit, Refleksi Tentang Sejarah (Jakarta: Gramedia, 1987), hal. 256-262; tentang psiko-sejarah, hal. 262-263. Perdebatan menarik dalam Pieter Gey (ed.), Debatas with Historians (New York: Meridian Books Inc., 1958), terutama artikel Isaiah Berlin, “Historical Inevitability,” hal. 264 ff.






