Prisma

Birokrasi di Dunia Ketiga: Alat Rakyat, Alat Penguasa, atau Penguasa?

Kalangan politik dan masyarakat pembayar pajak di Barat terperanjat. Bantuan yang mereka kirim ke Dunia Ketiga dalam periode 1950-an, 1960-an dan 1970-an tak membawa hasil pembangunan yang diharapkan. Pada masa yang sama di Dunia Ketiga muncul rezim-rezim yang korup dengan slogan “pembangunan”, “moderenisasi” dan “industrialisasi”. Dalam hubungan dengan inilah Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menulis masalah birokrasi pemerintahan, yang di Dunia Ketiga bukan lagi alat masyarakat, bahkan untuk sebagai sudah merupakan instrumen penguasa atau ia sendiri penguasa.

Setiap kali kita menolehkan pandangan ke negara-negara Dunia Ketiga, semudah itu kita akan menemukan kenyataan bahwa tidak berbeda dengan di negara-negara yang sudah maju di Barat, di sini pun kita akan mendapati kehadiran seperangkat elemen kehidupan bernegara, mulai dari undang-undang dasar, parlemen, administrasi negara, aparat hukum, angkatan bersenjata dan polisi negara, hingga ke partai politik dan organisasi non-pemerintah. Seolah-olah apa yang lazim ditemui di negara-negara Barat diduplikat saja secara menyeluruh di kelompok negara Dunia Ketiga.

Atas dasar kenyataan sepintas dan umum ini, baik kalangan politik di Dunia Ketiga maupun di negara-negara Barat, kemudian sering dengan mudah saja maju ke kesimpulan bahwa perbedaan hakiki yang ada di antara negara-negara mereka hanya terletak dalam masalah kuantitas, bukan kualitas. Jadi, masalah terpokok keterbelakangan Dunia Ketiga cuma terletak pada, misalnya, aparatur pemerintahap yang belum mampu secara lengkap dan menyeluruh menjangkau seluruh kawasan negara, sehingga sebagian besar masyarakat pedesaan belum secara efektif tersentuh oleh pemerintah di pusat. Maklumlah, jumlah pegawai dan besarnya fasilitas masih jauh dari memadai. Pokoknya, masalah-masalah institusional semacam ini tak dilihat berbeda dengan caranya melihat jurang yang ada di antara tingkatan pendapatan per kapita di kelompok negara maju dan kelompok negara Dunia Ketiga. Kesemuanya, cuma masalah perbedaan kuantitas, di antara keadaan serba-cukup dan serba-kurang.

Upaya pembangunan di Dunia Ketiga, karena itu, sering dilihat sebagai—tidak lebih—usaha untuk mengubah keadaan serba-kurang menjadi serba-cukup, melalui usaha peningkatan kuantitas melewati suatu kurun waktu tertentu. Maka, seperti kesemua pemerintah di Dunia Ketiga mengusahakan pembangunan ekonomi lewat perencanaan ekonomi yang bertahap, mereka juga kemudian mengusahakan dilaksanakannya social engineering, malahan juga political engineering. Dan, andaikan saja kebudayaan mudah diatur, rasanya tidak aneh bila nanti juga ada upaya rekayasa budaya. Kesemuanya didasari jalan pikiran: peningkatan kuantitas, dalam konteks mengusahakan pengubahan keadaan keterbelakangan menjadi kemajuan (progress, development, growth, dan sebagainya).

Dengan pandangan sederhana, optimistis, dan juga naif ini, kalangan politik Dunia Ketiga kemudian dengan bangga memamerkan aparat yang mereka miliki kepada tamu-tamu luar, untuk membuktikan bahwa kita juga tahu apa yang dimaksudkan dengan kehidupan bernegara. Seperti mengiakan ilusi yang ada di belakang “pameran jalan protokol” yang khas Dunia Ketiga ini, kalangan politik negara Barat mendasarkan bantuan luar negerinya pada jalan pikiran serupa. Pokoknya! berikan saja bantuan (sebetulnya, hutang) luar negeri, tujukan penggunaannya untuk segera mengubah keadaan serba-kurang menjadi serba-cukup, baik secara sektoral maupun—idealnya—secara komprehensif. Perubahan kuantitas tersebut nanti akan menimbulkan efek berantai, yang pada akhirnya mengubah kualitas juga. Istilah teknisnya: sesudah ada big push, muncullah trickle-down effect, untuk disusul oleh proses institusionalisasi. Kemajuan, dalam konteks semacam ini, dilihat sebagai proses internalisasi dari perubahan kuantitas oleh berbagai lembaga, mulai dari lembaga-lembaga pemerintahan sampai lembaga-lembaga masyarakat (social institutions). Lebih dari itu, malahan, pihak Barat sering secara mudah berpikiran bahwa lewat proses tersebut kesemua negara Dunia Ketiga akan mengalami kemajuan melewati rute yang tak banyak berbeda dengan yang pernah mereka lewati dahulu, dan negara-negara Dunia Ketiga yang lulus dalam perjalanan itu akan menjadi maju yang tak berbeda secara kualitas dari status mereka kini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan