Prisma

Catatan di Sekitar Regenerasi dalam Kelompok Islam

Dalam setiap fase perjuangan umat Islam, terutama di abad ke-20, generasi mudanya selalu turut serta. Keikutsertaan mana termanifestasikan lewat berbagai organisasi pemuda seperti JIB, SIS, HMI dan lain-lain. Kesemua organisasi tersebut dimaksudkan untuk mengisi jiwa keislaman generasi muda Islam yang terpelajar. Namun, menurut Ridwan Saidi, kenyataan akhir-akhir ini, menunjukkan adanya penurunan kuantitatif. Di pihak lain, kendatipun ada kecenderungan kembalinya umat manusia ke spiritualisme, generasi muda Islam kekurangan “perumus-perumus ide”.

Dalam rangka tradisi politik Islam, saya meragukan apakah pendekatan Ortega Y. Gasset dalam soal generasi tepat untuk diberlakukan. Ortega membagi kehidupan manusia dalam lima babakan usia, dengan rentang umur 75 tahun. Kelima babakan itu adalah kanak-kanak, pemuda, awal dewasa, kematangan dan usia renta. Dari pembabakan tersebut, terdapat dua jenis babakan umur yang memiliki perbedaan watak, yaitu babakan umur 30 sampai dengan 45 tahun dan 45 sampai dengan 60 tahun. Umur 30 sampai dengan 45 tahun penuh dengan kreasi tapi juga konflik, sedang umur 45 sampai dengan 60 tahun dapat dikatakan sebagai periode mapan. Oleh karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda itulah di sana senantiasa terdapat potensi terjadinya konflik antar generasi.1

Dekat menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW menugaskan Usamah (16 tahun) untuk memimpin pasukan menuju tapal batas Farsi (Iran). Jenderal Usamah belum sempat melaksanakan tugas tersebut, Nabi Muhammad sudah wafat. Abubakar yang tampil sebagai Khalifah mendapat protes dari khalayak tentang kedudukan Usamah, dan khalayak mendesak agar pengangkatan Usamah selaku Jenderal dibatalkan. Khalifah Abubakar menolak protes khalayak, kendati Usamah terlalu muda untuk jabatannya itu, tetapi Usamah ditugaskan oleh mendiang Rasulullah, niscayalah tidak meleset!

Perbedaan kelompok usia, dan oleh karenanya dapat juga menjadi perbedaan angkatan atau perbedaan generasi, tidak dengan sendirinya lantas menjadi pertentangan antar generasi. Di sepanjang sejarah politik Islam, termasuk di Indonesia, perjuangan kerapkali merupakan perwujudan kerjasama antar generasi. Sehingga persoalan generasi yang mengiringinya adalah bukan masalah regenerasi, tetapi masalah kebangkitan generasi, persiapan generasi atau pembentukan generasi. Regenerasi atau pergantian generasi di dalam hal ini kerapkali menjadi suatu konsekuensi alamiah belaka. Jadi soal regenerasi niscayalah berkaitan dengan suatu proses biologi, dan jarang dia merupakan konsekuensi suatu konsepsi.

K.H.A. Dachlan suatu “model” kebangkitan generasi

K.H.A. Dachlan (lahir 1868) dapatlah dikatakan sebagai suatu “model” dari bangkitnya sebuah generasi. K.H. Ahmad Dachlan merupakan “titik pusat” dari suatu pergerakan yang bangkit oleh karena hendak menjawab tantangan-tantangan yang dianggap tatkala itu dihadapi oleh golongan Islam. Tantangan itu adalah ketertinggalan dalam sistem dan metode pendidikan, dan kejumudan (kebekuan) yang meliputi paham umat Islam tentang agamanya.


1 International Encyclopedia of the Social Sciences.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan