Prisma

Cendekiawan dan Pijar-pijar Kebenaran

Ada kesulitan ganda dalam menulis tentang “peranan cendekiawan dalam masyarakat kita”. Salah-salah bisa bermuara dalam suatu tulisan yang sama sekali melekat dari kecendekiawan yang menuntut obyektivitas. Apalagi bila yang diminta ialah terutama soal tentang “perbenturan antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai baru yang dibawa oleh cendekiawan yang sudah diperbarat”. Sebab, sampai derajad manakah kita masing-masing (terutama penulis) masih tradisional dan berapa persen kadar “barat” dalam kecendekiawan atau keawaman kita? Bukan kah orang harus “matang” (“in”) dulu dalam penghayatannya akan sesuatu, supaya berhak mempersaksikannya secara bertanggungjawab?

Belum lagi harus dipertanyakan juga, apa dan siapa cendekiawan itu? Apakah seorang dosen yang setiap tahun otomatis naik tingkat dan asal ia sabar, tekun (dan alim) menunggu saatnya, pada suatu ketika akhirnya pasti akan didatangi keputusan bahagia, bahwa ia sekarang boleh mencantumkan sebutan profesor di muka namanya, apakah beliau yang semacam itu cendekiawan? Apakah seorang doktor yang membuat disertasi magna cum laude tentang metode baru pemetaan galaksi-galaksi angkasa jauh tergolong cendekiawan (untuk negara berkembang yang belum lagi bisa produksi sendiri potlot atau ball-point)? Apakah seorang jenderal yang kampian memberi konsesi minyak dan mengalirkan uang ke kas negara (dan kas pribadi) dan karenanya mendapat titel doctor honoris causa ilmu ekonomi adalah seorang intelektuil? Apakah Robert Oppenheimer dan Edward Teller yang membuat bom atom dan bom H masih terhitung kaum intelektuail? Dan Snouck Hurgro-nye, si penasehat ahli adat yang mengikuti jenderal van Heutz selama perang Aceh? Apakah Kong Hu Tze, Ronggowarsito atau Mangkunegoro IV terhitung kaum intelektuil? Dan Soekarno atau Ghandi, cendekiawankah mereka? Mao Tze Tung yang bukunya dibaca oleh lebih dari satu milyar penduduk bumi? Bolehkah Pramudya Ananta Tur atau Chairil Anwar kita golongkan cendekiawan seperti pengamat mereka H.B. Yassin adalah cendekiawan? Dan itu: Ki Hajar Dewantoro, Hamka, Sutan Sjahrir yang tak pernah menggondol ijazah universitas? Apa perbedaan manusia cendekiawan atau intelektuil dan orang arif-bijaksana? Apakah kaum intelektuil harus pandai? Tetapi tidak perlu bijaksana? Tetapi apakah orang intelektual selalu pandai?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan