Prisma

Cendekiawan Dunia Ketiga: Orang “Barat” di Dunia “Timur”

I

Pesimisme kalangan cendekiawan Barat tentang pembangunan ekonomi serta modernisasi dan industrialisasi pada umumnya, baik yang telah terjadi dan terus berkembang pesat di negara-negara mereka maupun yang terus diusahakan dalam berbagai bentuknya di semua negara Dunia Ketiga, belum pernah sedalam seperti yang kita jumpai dewasa ini.1¹ Sikap semacam ini betul bukan hal yang baru; juga timbul bukan hanya sebagai reaksi terhadap gambaran-gambaran negatif yang bermunculan di segenap penjuru dunia, dalam berbagai bidang kehidupan; ataupun sebagai akibat dari bermacam krisis yang melanda dunia susul-menyusul, mulai dari krisis moneter 1971, krisis pangan 1972, kemudian—dan yang terberat—inflasi, krisis energi serta resesi ekonomi 1973-1975. Kali ini tampaknya pesimisme mereka bersifat lebih mendasar, dan bukan hanya reaksi temporer atas kejadian-kejadian jangka pendek. Seolah-olah perkembangan pesat yang terlihat dalam semua cabang ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu alam dan biologi hingga ke ilmu sosial dan ekonomi, yang terjadi sejak akhir dasawarsa 1950-an, telah membawa mereka pada satu puncak baru kesadaran intelektuail dan sikap kritis yang mendasar, barangkali setaraf dengan yang pernah dialami dunia Barat pada zaman Renaissance dalam abad-abad ke-14 hingga ke-16.

Belum pernah dalam sejarah perkembangan yang selama berabad-abad ilmu pengetahuan memiliki kemampuan melihat begitu jauh ke belakang dan begitu jauh ke muka, menjembatani zaman demi zaman, sekaligus melakukan penilaian menyeluruh atas manusia dan hasil kegiatannya. Betul Toynbee dan Spengler—filsuf dan sejarawan raksasa—secara individuil pernah melihat ini semua dalam analisa sejarah serta peradaban (civilization) yang sama ambisiuanya, tapi kali ini sejumlah besar ilmawan secara kolektif dan dengan menggunakan metode analisa mutakhir serta alat hitung yang ampuh—yakni komputer—telah berhasil membuat kesemuanya itu menjadi sangat terang dan tegas (eksplisit). Sebagai hasilnya, terbentanglah di muka kita analisa yang tajam baik secara kwantitatif maupun kwalitatif, yang mau tak mau pada akhirnya mulai menumbuhkan nilai-nilai baru, dan pada gilirannya sikap serta pandangan yang baru pula.


1 Sikap semacam ini secara sistematis, dan dramatis, diutarakan dalam, misalnya, laporan Club of Rome yang terkenal itu. Lihat: Donella H. Meadows et al., (ed.), The Limits to Growth, (New York: The New American Library, 1973); yang belakangan ini disusul oleh berbagai tulisan yang senada, misalnya: Erik P. Eckholm, Losing Ground: Environmental Stress and World Food Prospects, (New York: Worldwatch Institute, 1976); atau yang mencoba mengarahkan kesimpulan serta saran ke jurusan yang berbeda, misalnya: H.S.D. Cole et al., (ed.). Thinking About the Future: A Critique of the Limits to Growth, (Sussex University Press, 1973).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan