SEPEREMPAT abad silam Richard Robison menerbitkan sebuah buku berjudul Indonesia: The Rise of Capital (1986). Buku berisi pemetaan detail tentang munculnya faksi-faksi modal di era Orde Baru itu telah menjadi semacam studi klasik tentang pertumbuhan kapitalisme di Indonesia dari sudut pandang studi ekonomi politik. Setelah reformasi, lanskap ekonomi politik di Indonesia berubah seiring dengan perubahan kekuasaan.
Di era pasar bebas dewasa ini, kekuatan-kekuatan bisnis memunculkan wajah baru. Sebagian di antaranya bertukar tempat dengan pemain lama. Namun muncul banyak kritik. Misalnya, liberalisme pasar ternyata belum bisa membuat para pengusaha nasional menjadi tuan di negeri sendiri. Pertanyaan tentang sejauh mana liberalisme harus dilakukan kembali mengemuka di tengah sentimen nasionalisme yang menghendaki proteksi bagi ekonomi nasional. Peran negara yang berhasil melahirkan dan membesarkan konglomerat Tionghoa di era Orde Baru, kini kembali ditinjau oleh sebagian kalangan dan bahkan ingin ditarik kembali untuk mengatur pasar.
Di era reformasi ini, haruskah negara kembali melakukan intervensi dan/atau melindungi industri nasional? Christianto Wibisono memberikan komentar seputar isu itu. Dia melihat dari sudut berbeda dengan apa yang pernah dipaparkan Richard Robison seperempat abad silam. Berikut petikan dialog Nezar Patria dan Arya Wisesa dari Prisma dengan mantan Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) itu pada penghujung tahun 2012 di Jakarta.

Christianto Wibisono dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1945. Meraih gelar sarjana dari Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (1964) dan menamatkan S2 Ilmu Politik di universitas yang sama (1978). Memulai karier sebagai wartawan Harian KAMI pada 1967. Tiga tahun kemudian, bersama beberapa kawan, menerbitkan Majalah Berita Mingguan Ekspres kemudian Tempo yang ditekuninya hingga tahun 1974. Pemenang Sayembara Mengarang 30 Tahun Kemerdekaan RI (1975) dan penerima penghargaan dari Presiden Suharto ini adalah penulis buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno yang dibreidel rezim Orde Baru pada 1978. Di tengah aktivitasnya sebagai Asisten Pribadi (1978- 1983) Wakil Presiden Adam Malik untuk Komisi Willi Brandt, dia mendirikan sekaligus mengelola Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), menjadi pengkaji “Anatomi Piramida Kekuatan Ekonomi Indonesia”, “Apa dan Siapa”, serta “Siapa Memiliki Apa.” Kerusuhan Mei 1998 membawa Christianto Wibisono dan keluarganya pindah ke Washington DC, Amerika Serikat. Di negeri itu dia menjadi lobbyist untuk kepentingan Indonesia. Chairman Global Nexus Institute (sejak 2007), think tank dampak geopolitik terhadap Indonesia Inc., ini diangkat sebagai salah satu anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) pada 2010.