Peter F. Drucker, Post Capitalist Society, Oxford: Butterworth-Heinemann Ltd., 1993, 204 hal.
SUDAH banyak buku dan artikel membahas kapitalisme, sebagai satu “ideologi” paling berpengaruh, baik yang berupa pujian dan sanjungan karena keunggulannya dibandingkan dengan “lawannya,” sosialisme, maupun berupa kritik dan sanggahan dari berbagai ahli, terutama dari kalangan pakar ekonomi atau sosiologi. Lebih-lebih setelah revolusi yang terjadi di belahan dunia Eropa Timur pada tahun 1989 –yang disusul dengan “hancurnya” Uni Soviet pada tahun 1991,1 maka pembicaraan tentang kapitalisme tentu makin menarik.
Sepanjang pengetahuan penulis, buku Drucker ini merupakan buku pertama dari analisa mendalam tentang penampilan kapitalisme dalam era Pasca Perang Dingin. Namun demikian, hampir semua jurnal ilmiah sosiologi dan ilmu politik telah membicarakan topik ini dari berbagai aspeknya, terutama pada tahun 1991 dan 1992, bahkan sampai pertengahan 1993, termasuk di dalamnya pembahasan tentang sebab-sebab kehancuran sosialisme2 dan prospeknya di masa depan.3 Hampir semua analisis tentu berusaha menunjukkan kehebatan kapitalisme sehingga dapat tetap bertahan hidup.4 Inilah salah satu prestasi dari berbagai “gebrakan” yang dilakukan oleh Ronald Reagan dan Margaret Tatcher di tahun 1980-an.5
Dengan mengambil posisi sebagai pendukung kapitalisme maka setelah hancurnya Marxisme sebagai satu ideologi dan sosialisme sebagai satu sistem, Drucker amat yakin bahwa peradaban manusia sekarang sedang bergerak menuju satu masyarakat yang baru dan berbeda.
Kapitalisme dan teknologi bukanlah sesuatu yang baru dan bukan pula hanya milik masyarakat Barat, melainkan sesuatu yang telah berusia lama dan terdapat baik di Barat maupun di Timur. Yang baru adalah kecepatan penyebarannya dan jangkauan globalnya yang melintasi budaya, kelas-kelas dan geografi (hal. 17-18).
Masyarakat Pasca-kapitalis bukanlah masyarakat “anti-kapitalis” dan bukan pula masyarakat “non-kapitalis.” Keberadaan masyarakat ini didominasi oleh dua kelas, yaitu “kapitalis” yang memiliki dan menguasai alat produksi dan buruh yang teralienasi, diperas dan tergantung kepada kelas pertama. Sumberdaya utama dalam era ini adalah ilmu pengetahuan –yang harus didukung oleh organisasi yang handal. Ilmu pengetahuanlah yang menjadi kunci segala-galanya dan yang menentukan faktor produksi, bukan kapital, tidak pula tanah, apalagi buruh. Karena itu pula “knowledge worker” dianggap sebagai kelompok sosial yang paling unggul (hal. 6).
Masyarakat Pasca-kapitalis yang dimaksudkan Drucker di sini hanya mencakup negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan Negara-negara Industri Baru (NICs/NIB), tidak termasuk Dunia Ketiga. Negara-negara di Dunia Ketiga mempunyai masalah, tantangan dan kesempatan sendiri yang berbeda dengan negara-negara maju tersebut.6 Karena itu diperlukan pula kebijakan dan solusi yang berbeda dalam menghadapi berbagai tantangannya. Ini tidak berarti menegaskan atau meremehkan Dunia Ketiga.
Drucker berusaha membahas tiga tema pokok. Yaitu: masyarakat pasca-kapitalis, “kepolitikan” (polity) pasca-kapitalis, dan tantangan baru yang dihadapi oleh ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, pengarang ingin membicarakan tindakan yang perlu diambil “di sini dan kini,” dan bukan tentang prediksi masa depan.7
1 Salah satu analisa menarik dalam memahami proses kehancuran sosialisme di Eropa Timur lihat Ralf Dahrendorf, Reflections on the Revolution in Europe, London: Chatto & Windus Ltd., 1990. Bandingkan dengan Robin Blackburn “Pin de siecle: socialism after the crash” dalam New Left Review, No. 185, Jan.-Feb. 1991, hal. 5-66.
2 Misalnya lihat S. G. Sardesai “What is Marxism today?” dalam Man & Development, Vol. XV, No. 2, June 1993, hal. 147-82. Bandingkan dengan pendapat Ralph Miliband, “Reflections on the Crisis of Communist Regimes” dalam New Left Review, No. 177, Sept.-Oct. 1989, hal. 27-36.
3 Misalnya, lihat David Schweickart, “Economic democracy: a Worthy Socialism that Would Really Work” dalam Science and Society, Vol. 56, No. 1, Spring 1992, hal. 9-38. Di sini dikatakan bahwa “ekonomi demokratis” adalah bentuk sosialisme yang efisien yang pasti akan mengungguli kapitalisme.
4 Eric Hobsbawm, “Today’s Crisis of Ideologies” dalam New Left Review, No. 192, March-April 1992, hal. 55-64.
5 Lihat pula Bart van Steenbergen, “Global Modeling in The 1990s” dalam Futures, Vol. 26, No. 1, Feb. 1994, hal. 44-56; yang menegaskan bahwa era 1980-an disebut sebagai “revolusi konservatif.”
6 Untuk memahami aspek politik Dunia Ketiga, lihat Mehran Kamrava, “Conceptualising Third World Politics: the State-Society see-saw” dalam Third World Quarterly, Vol. 14, No. 4, Nov., 1993, hal. 703-16. Bandingkan pula dengan Takashi Inoguchi, “The Coming Pacific Century?” dalam Current History, Vol. 93, No. 579, Jan. 1994, hal. 25-30.
7 Bagi yang berminat memahami kecenderungan masa depan, yang erat kaitannya dengan tema yang dibahas Drucker ini lihat jurnal Futures, Vol. 26, No. 2, March 1994. Tidak kurang dari 13 pakar terkemuka ditampilkan untuk membahas berbagai kecenderungan masa depan dari perspektif ‘pembangunan berkelanjutan.