Ayahku orang desa Cikaso, salah satu desa Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan; anak seorang haji keturunan kiyai yang silsilahnya bersambung dengan Suara Maesti, yang meninggalkan Kesultanan Cirebon dan memilih tempat menetap di lereng Gunung Ciremai sebelah timur. Kemudian anak-cucunya membangun sebuah pemukiman di pedesaan yang terkenal dengan Desa Cikaso.
Dari pernikahannya dengan ibuku, cucu seorang Demang Kraton Kasepuhan Cirebon, ayahku dikaruniai empat orang anak, semuanya lelaki sedangkan aku anak yang kedua.
Menurut catatan ayahku, aku dilahirkan di rumah buyutku di Pengampon Cirebon pada hari Kamis tanggal 2 Hapit 1324 tahun Hijrah atau tanggal 26 November 1906.
Ayahku bekerja sebagai pegawai rendah pada Kantor Kabupaten Majalengka. Sebagai pegawai kabupaten zaman penjajahan ia harus mengikuti cara kehidupan kaum priayi yang feodalistis dan gemar pesta dengan ibing tayuban dan hiburan lainnya, yang bertentangan dengan ajaran orangtuanya di desa.
Sadar akan dirinya sebagai anak seorang haji terkenal dari Cikaso, ayahku meninggalkan pekerjaannya sebagai priayi kecil dan mengembara ke Betawi, untuk menuntut kehidupan yang bersih sambil menjadi guru di bidang agama, menurut petunjuk kakekku.
Sebelum pindah ke Betawi, orangtuaku singgah dahulu ke Cikaso untuk memohon doa restu dari nenekku. Atas permintaan nenek, aku harus ditinggalkan di Cikaso untuk dipelihara dan dibesarkan di bawah asuhan nenek. Waktu itu aku baru berusia lebih kurang 4 tahun, seorang anak dalam pertumbuhan yang mendambakan kasihsayang ibu dan ayah.
Ketika pada suatu hari aku bangun tidur, orangtuaku telah meninggalkan aku di rumah nenekku. Berhari-hari aku menangis dan memanggil ibu. Nenek menghiburku dan menyuruh saudara misanku (anak bibi) perempuan untuk mengajakku bermain dan menjagaku sehari-hari.
Tak sampai dua minggu lamanya aku ditinggalkan di Cikaso, terlupalah aku kepada ibuku, karena terhibur oleh kasihsayang nenek dan mulai terbiasa hidup di lingkungan keluarga besar nenek, yang terdiri dari uwa, paman, bibi dan saudara-saudara misanku yang puluhan jumlahnya, sedangkan rumah-rumahnya berdekatan dengan rumah nenek di Lembur Tengah, Desa Cikaso.
Desa Cikaso menurut penggolongan penduduknya (semuanya berasal dari satu rumpun keturunan) terdiri atas lima lembur, masing-masing mempunyai tajug (mushalla) dengan imam yang memimpin keagamaan lembur setempat, yakni Lembur Tengah tempat kakek-nenekku tinggal, Lembur Kaler dengan Imam Kiyai Marzuki, Lembur Kidul dengan Imam Ketib Abdul-Mu’in, Lembur Kulon dengan Imam Kiyai Ilham dan Lembur Wetan, disebut pula Lembur Pabrik, dihuni oleh para pendatang dari tempat lain dan kemudian menetap di situ.
Desa Cikaso dihuni oleh masyarakat tani yang patuh kepada agama Islam dan tradisi gotongroyong, dengan pimpinan pemerintahan kepala desa yang disebut kuwu, dibantu oleh ngaihi (wakil) dan lurah (kepala kampung atau lembur).