Pendahuluan
Setelah menonton 27 film cerita, Dewan Juri Festival Film Indonesia 1977 sampai pada kesimpulan:
… film Indonesia dewasa ini dibuat oleh para produser betul-betul semata-mata sebagai alat hiburan dalam arti yang tidak selalu sehat. Produser film kita menampakkan diri terutama sebagai pedagang impian (merchant of dreams), dalam posisi demikian si produser memang tidak memijakkan kakinya di bumi Indonesia, sebab mimpi yang indah toh senantiasa berkisah mengenai dunia yang tidak selalu kita kenal.
Bagai disengat lebah, kalangan perfilman memberikan reaksi di luar kewajaran dan kebiasaan mereka yang suka berbasa-basi.1 Tidak kurang terkejutnya adalah kalangan pengamat perfilman yang sejak lama sebenarnya sudah menyuarakan apa yang pada pesta penutupan festival itu diumumkan oleh dewan juri. Di awal tahun tujuhpuluhan, wartawan terkemuka Rosihan Anwar sudah dengan kesal melontarkan pertanyaan:
Mengapa film Indonesia mesti memperlihatkan hal itu ke itu juga: rumah mewah, Mercedes Benz, pemuda ngebut dengan sepeda motor Honda, night club?2
Ahli ilmu jiwa dan penulis terkenal, Arief Budiman, juga bertanya mengenai “adegan-adegan yang erotis” yang “hampir terdapat pada semua film Indonesia”.3
Hidup mewah, erotisme dan kekerasan yang ditampilkan oleh film-film buatan Indonesia dirasakan sangat asing oleh penulis Jacob Sumardjo. “Kapan wajah kita yang sebenarnya bisa kita lihat di sana?”, begitu Jacob bertanya.4 Kurang jelas apakah Umar Kayam—bekas Dirjen Radio, TV dan Film, Departemen Penerangan RI yang kemudian ikut main film—sependapat dengan para penulis sejarah film yang menilai film-film Hollywood sebagai buah impian para imigran yang mempelopori industri film di Amerika.5 Yang jelas Umar Kayam menilai film-film Indonesia sebagai penyaji impian-impian. Cuma saja impian itu dinilainya sebagai “belum sebuah impian Indonesia”.6
Pendapat Kayam itu sebenarnya merupakan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan yang menggoda Rosihan, Arief maupun Jacob. Tapi jawaban yang sebenarnya nampaknya harus diperoleh dari H. Asrul Sani, sastrawan terkemuka yang kemudian jadi penulis skenario dan sutradara film. Asrul menjelaskan: Cerita-cerita film kita pada umumnya sekarang bukan lagi datang dari pengarang-pengarang sebenarnya, tapi datang dari finansir yang mengajukan ramuan dari unsur-unsur yang menurut perhitungannya akan membuat film itu laku.
1 Mengenai reaksi orang-orang film terhadap keputusan dewan juri ini, lihat laporan Tempo, 12 Maret 1977, hal. 50 dan 51.
2 H. Rosihan Anwar: “Melihat Unsur Kemewahan dalam Film Indonesia”, Budaja Djaja, Th. V, No. 44, Januari 1972, hal. 2.
3 Arief Budiman: “Adegan-adegan Erotis Dalam Film Indonesia, Pancaran Dari Kenyataan Apa?”, Budaja Djaja, Th. V, No. 44, Januari 1972, hal. 11.
4 Jacob Sumardjo: “Image Indonesia Dalam Film Nasional Kita”, Kompas, 16 April 1974, hal. 4.
5 Jerzy Teoplitz: Hollywood And After The Changing Face Of Movies in America, (Chicago: Henry Regnery Company, 1974), hal. 99.
6 Kompas, 25 November 1975, hal. 4.



