Namanya Godam. Cirinya: ia kebal. Ia dapat terbang. Ia berwajah tampan, bertubuh atletis dan berambut rapi seperti Superman—yang barangkali merupakan model dari mana ia memperoleh dirinya. Ia memakai jubah, atau lebih tepat hiasan kain yang melambai-lambai bergelombang di punggungnya. Di dadanya tertulis huruf “G”, sebagaimana Superman memasang huruf “S”.
Tapi berbeda dari Superman yang berasal dari planet Krypton, yang diluncurkan oleh bapaknya tatkala masih bayi ke bumi, beberapa saat sebelum planet di bawah matahari merah itu meledak, Godam tidak punya sejarah yang mirip-mirip fiksi ilmiah. Asal-usul Godam lebih menyerupai dongeng siluman versi baru—atau mungkin juga mirip cerita Captain Marvel ciptaan Bill Parker dan C.C. Beck yang menjadi mashur sejak muncul di Amerika Serikat di tahun 1940. Captain Marvel adalah penjelmaan seorang anak penjual koran yang miskin—yang kemudian bekerja di radio. Dengan berteriak “Shazam!” ia bisa berubah jadi pria perkasa. Godam juga pria perkasa yang sebenarnya adalah penjelmaan seorang sopir berwajah buruk yang bernama Awang. Tiap kali ada kejahatan terjadi dan ia merasa perlu menolong, ia mengenakan sebentuk cincin sakti . . . lalu berubahlah dia menjadi Godam.
Dan biasanya ia tidak bersendiri dalam menjalankan tugasnya. Ada sejumlah tokoh lain, para superhero yang juga jelmaan dari orang-orang yang sehari-hari tidak terlihat sebagai orang istimewa—atau sekedar superhero fantastis yang kita tak pernah tahu apa kerjanya kalau sedang tidak bertempur. Mereka ini sahabat Godam.
Yang pertama-tama mungkin perlu di sebut ialah Maza. Atau lengkapnya: Maza Sang Penakluk. Ia bertubuh, dan berpakaian, mirip Tarzan. Bedanya: ia bukan raja hutan belantara. Bahkan dalam buku Sang Kolektor nampak Maza berbaring di rumput sambil mengeluh tentang tugas yang diberikan kepadanya oleh Godam dan yang lain-lain: “Kurang asem! Mereka telah memerankan aku sebagai Tarzan! Sendirian di tengah hutan ditemani seekor binatang!” Maza juga penjelmaan. Dalam hidup sehari-hari ia seorang pelukis, bernama Kanigara. Pada saat-saat ia dibutuhkan, ia menghunjamkan kuasnya ke tanah, dan suatu metamorfosis terjadi: ia berubah jadi Maza, majikan dari seorang hantu besar gundul berkuncir yang bernama gampangan—jin Kartubi (sebelum ejaan baru ditulis: “Cartuby”). Makhluk ini pada dasarnya hanya semacam senjata buat Maza. Kartubi bukan hantu dalam kisah Aladdin. Ia tidak menghadirkan hal-hal yang semula tak ada untuk memenuhi pesanan. Ia merupakan kelanjutan dari tenaga kasar si pemilik.
* Tulisan ini adalah sebuah sketsa dari dunia kecil buku komik Indonesia. Saya amat banyak dibantu dalam mengumpulkan dan mengingat-ingat bahan oleh Hidayat Jati, yang bacaan komiknya melebihi yang disangka oleh ayahnya sendiri—yakni saya.

