
Di bawah ini adalah resensi terhadap tiga buku tentang Jakarta. Ketiganya terbit setelah tahun 1980, dan ditulis oleh pengarang wanita. Dua penulis berasal dari Australia (Abeyasekere dan Jellinek) dan seorang dari USA (Taylor).
Buku pertama adalah Jakarta: A History (Oxford University Press, Singapore, 1987), ditulis oleh Susan Abeyasekere. Dalam satu hal, buku ini dapat dipandang sebagai “pemekaran” dari buku Pemekaran Kota Jakarta oleh Abdurrachman Soerjomihardjo (Djambatan, 1977). Buku ini kaya dengan berbagai info dan fakta penting yang tidak mungkin akan ditemukan tanpa melakukan penelitian kepustakaan yang tekun dan lama, dan penelitian lapangan.
Sepanjang pengetahuan saya, proyek buku ini telah dimulai sekurang-kurangnya sejak tahun 1981. Bagaimanapun, untuk satu uraian sejarah sebuah kota serentang masa hampir 500 tahun (1500-1985), buku ini masih dapat dikatakan sebagai sebuah “sejarah umum” Kota Jakarta. Karena itu, siapa yang ingin memperdalam kajian terhadap sejarah Jakarta, sebaiknya tidak melewatkan buku ini.
Periodisasi sejarah dalam buku ini cukup sistematis, sederhana dan masuk akal, meskipun, penulisnya masih ingin memecah periode 1500-1800 (Bab 1) ke dalam beberapa sub-periode.
Dalam periode abad XIX (Bab 2), beberapa peristiwa penting perlu dicurigai telah membawa dampak yang sangat berarti bagi situasi sosial, ekonomi, dan politik Batavia, misalnya Pemerintahan Raffles (1811-1816), Tanam Paksa (1830-1870), Liberalisasi Ekonomi (1870), dan pembukaan Terusan Suez (1869). Mestinya peristiwa ini diberi penekanan khusus. Namun pendalaman terhadap hal-hal khusus akan membuat buku terlalu tebal.
Buku ini tidak bergerak dengan satu tema tunggal secara konsisten dari awal sampai akhir. Setiap Bab, yang merupakan satu periode khas dalam sejarah Jakarta, mengandung satu tema sendiri yang sesuai dengan masalah yang menonjol di Jakarta pada masa itu.
Bab 1 “Company Town: Early Origins to 1800,” bercerita tentang perkembangan Jakarta dari zaman Sunda Kelapa sampai kebangkrutan VOC dalam 1790. Tema pusat dalam bab ini adalah proses awal pembentukan komunitas kota Batavia secara sosial, kultural, politis, dan ekonomik. Proses ini dimulai dengan usaha mati-matian Gubernur Jenderal keras hati Coen mempertahankan benteng VOC dari ancaman Inggris, Banten, dan Mataram. Dalam masa ini juga dia membabat habis pemerintahan Pangeran Jayakarta beserta rakyatnya, sehingga VOC menjadi penguasa tunggal di daerah muara Sungai Ciliwung itu.
Tujuan utama VOC adalah ekonomi, yang pencapaiannya ditupang oleh organisasi politik dan militer. Jadi kelompok manusia yang diperlukan dan tersedia di tempat pada waktu itu adalah serdadu sewaan yang terdiri dari orang-orang miskin dari berbagai negara di Eropah (Perancis, Inggris, Jerman, Denmark), para budak belian dari berbagai tempat di Asia (Malabar, Arakan, Banda, Bali, Makasar), dan migran Cina yang jadi tukang dan pedagang perantara. Bumiputera bebas, khususnya Orang Jawa pada mulanya dilarang masuk kota, karena dikuatirkan akan mengancam kekuasaan VOC, namun peraturan ini dicabut pada akhir abad XVII.
Demikianlah, masyarakat awal Batavia sampai akhir abad XVIII terbentuk dari jaringan sosial antar golongan di atas, dengan sistem ekonomi dan politik VOC dan kultur mestizo (Indo-Eropah) sebagai terasnya. Batavia pada masa itu meliputi satu kawasan beberapa ratus meter persegi di sekeliling Kantor Pos Kota kini (Pasar Ikan, Pintu Besar, Jalan Kopi, dan Stasion Kota).
Dalam Bab 2 diuraikan keadaan Batavia abad XIX. Beberapa peristiwa penting pada masa ini adalah pemindahan pusat kota dari Pasar Ikan ke Lapangan Banteng (gedung Departemen Keuangan) oleh Daendels (1808). Daerah Gambir (sekitar Monas) berkembang sebagai pusat pemukiman baru Belanda, dan sebuah istana baru (Istana Merdeka) dibangun pada 1861. Pelabuhan baru Tanjung Priok dibangun menggantikan Pasar Ikan (1877). Masyarakat Eropah di Batavia, yang menurun kualitas kulturalnya sampai akhir abad XVIII karena dominannya unsur mestizo, kini kembali diusahakan untuk di-westernisasi-kan dengan cara membuka club Harmonie, toko buku, koran, Gedung Kesenian tempat mempertunjukkan musik klasik dan opera, dan selanjutnya.
Secara sosial dan legal, struktur masyarakat kota tetap tidak berubah: Eropah sebagai kelas tertinggi, kemudian Timur Asing (Cina dan Arab), dan paling bawah Pribumi Betawi. Setiap kelas masih dapat dipecah lagi ke dalam sub-kelas. Eropah terdiri dari Belanda totok dan Indo. Begitu juga Cina. Sedangkan Pribumi Betawi terbentuk sebagai hasil percampuran dari berbagai golongan bekas budak, Orang Jawa, Sunda, dan Melayu.