Prisma

Dari Pecinan sampai NanYang: Suatu Introduksi tentang Kewiraswastaan Orang Cina di Indonesia1

… bertahanlah seperti air yang selalu kembali – tanpa henti menggerogoti tembok kaku yang tak mampu menahan serbuannya.

sebuah sajak Tao.2

Dicari : pegawai pria Cina WNI untuk pelayanan Toko P&D … “. Juga : ” … tenaga-tenaga Cina buat kepala bengkel mobil”. Atau : ” … seorang sopir WNI keturunan Cina.” Iklan lowongan kerja bernada rasial begini muncul di halaman koran-koran Surabaya awal Agustus lalu, rata-rata lima iklan sehari. Karuan saja timbul tentangan dari masyarakat Surabaya.3 Juga Pangkopkamtib Laksamana Sudomo tak setuju dengan “iklan rasial” tersebut. Pihak Polri segera diperintahkannya mengambil tindakan untuk mencegah akibat iklan rasial semacam itu, yang kabarnya sudah timbul juga di Jakarta, Solo, dan kota-kota lain.

Pada kesempatan yang sama, Sudomo juga menanggapi timbulnya “Gerakan Anti Cina” (GAC) di Surabaya yang berusaha memeras pengusaha-pengusaha keturunan Cina. Masyarakat jangan main hakim sendiri, begitu pendapat Pangkopkamtib. Namun di pihak lain, ia keberatan kalau para WNI keturunan Cina tetap hidup tertutup dan membuat kelompok sendiri-sendiri.4

Itu tadi hanya satu dari sekian banyak contoh, bagaimana sepakterjang orang Cina – terutama di bidang ekonomi – selalu saja menarik perhatian masyarakat. Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang lalu misalnya, berkas perkara manipulasi kredit Bank Bumi Daya melalui proyek rumah mewah Pluit telah diserahkan ke pengadilan. Terdakwa utama, seorang keturunan Cina asal Medan yang dituduh merugikan negara sekitar Rp 18,9 milyar.5

Beberapa waktu sebelumnya anggota DPR-RI agak terkejut karena pembekuan suatu perkara manipulasi dana-dana Pertamina melalui suatu proyek rumah mewah juga. Otorita yang terlibat adalah Otorita Kuningan, sedang dari pihak swasta disebut-sebut nama pemilik PT Astra International Inc. Dan memang, hampir setengah tahun sebelumnya orang sudah tahu bagaimana Astra dan ke-9 anak perusahaannya terpaksa mengencangkan ikat pinggang karena “12 milyar rupiah uang Astra mati tertanam di sana.” 6


1 Istilah “orang Cina” di sini meliputi seluruh golongan etnis Cina, dan kami anggap lebih netral daripada istilah “Tenglang” atau “Tionghoa” yang rada berbau chauvinistis.

2 Richard Tanner Pascale, “Zen dan seni manajemen,” Harvard Business Review, Maret-April 1978, hal. 158.

3 Antara, 9 Agustus 1978.

4 Pos Sore, 12 Agustus 1978

5 Sinar Harapan, 15 Agustus 1978.

6 Tempo, 12 Februari 1977, hal. 48, 52.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan