Prisma

Darul Islam di Asia Tenggara Bagian Integral dari Sebuah Rumah Gadang atau Rumah Susun Tersendiri?

Taufik Abdullah dan Sharon Siddique (ed), Islam dan Masyarakat di Tenggara Asia, Institut Asia Tenggara Studi, Singapura, 348 halaman.

ISLAM di Asia Tenggara tidak mendapat perhatian yang besar dalam studi internasional dan umum mengenai agama itu. Di negara Barat sering diadakan identifikasi antara bidang studi Timur Tengah dan studi mengenai Islam. Buku baku mengenai Islam secara menyeluruh jarang memberikan perhatian kepada daerah “pinggiran” Islam: baik di sebelah Timur (yaitu India dan Asia Tenggara) maupun sebelah selatan padang pasir Sahara (Nigeria, Tanzania, Madagaskar dan lain-lainnya). Dalam karangan sejarah Islam seperti Brockelmann dan Hitti sama sekali tidak diberikan perhatian kepada sejarah Islam di Malaysia atau Indonesia. Juga di dalam buku yang sekarang mulai menjadi buku pegangan dan kesayangan sejumlah orang Muslim di Indonesia, yaitu karangan M.S.G. Hodgson, The Venture of Islam1, daerah Timur ini hampir tidak dibicarakan. Mengapa tidak? Padahal dari segi kuantitas jumlah ummat Islam di daerah ini tidak bisa diabaikan! Mungkin ada dua sebab utama: a) Islam mendapat bentuk yang “definitif” dalam suatu periode yang berlangsung selama tiga abad. Orang Arab dan Parsi memberikan sumbangan yang menentukan dalam fase konstitutif ini. Pada tahun 350 H (kurang lebih 950 M) sistem Islam sudah mencapai bentuk finalnya: Imam al Syafi’i dan al Asy’ari telah memberikan capnya kepada bentuk agama, yang buat generasi kemudian akan menjadi bentuk yang normatif. a) Islam di Asia Tenggara sejak 1600 terletak di luar jalur ekonomi, politik dan kebudayaan dari negara “inti” dalam Daru’l Islam. Di Asia Tenggara memang diterima secara menyeluruh konsep dan ajaran agama. Dalam hal aqidah, ilmu kalam, fiqh dan tasauf tidak ada perbedaan yang berarti antara Islam di Timur Tengah dan Islam di Asia Tenggara. Akan tetapi dalam bidang politik, dan ekonomi tidak pernah terjadi suatu gabungan dengan daerah inti. Umat Islam di Asia Tenggara mendirikan Rumah Susun tersendiri dan tidak pernah tergabung dalam Rumah Gadang yang merupakan Daru’l Islam itu dalam periode pertamanya.


1 Universitas Chicago Press, 1974, tiga jilid.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan