Prisma

Dasar Keberadaan

Ketika menyaksikan bahwa peri kehidupan di Jawa dan di Madura semakin memburuk, salah satu keputusan pertama yang terlintas dalam pikiran pemerintah kolonial zaman Etis adalah memindahkan orang Jawa dan Madura ke luar, untuk membentuk koloni-koloni terutama di Sumatera. Ketika melihat bahwa meningkatnya perkembangan penduduk di Jawa tidak akan terbendung lagi, pemerintah zaman merdeka juga mengambil keputusan yang sama: memindahkan orang Jawa ke luar Jawa. Namun kalau sejarah pernah menunjukkan fakta, maka fakta pertama yang dipertontonkannya adalah semakin kabur dasar berpijak transmigrasi itu sendiri, dari mana menilai kegagalan dan keberhasilan upaya tersebut.

Dari sini sebenarnya tumbuh perbincangan tentang transmigrasi. Apakah transmigrasi suatu yang ditakdirkan untuk gagal? Ataukah dalam transmigrasi ada secercah harapan, tergantung dari mana menilik? Di sini kita tiba pada mempersoalkan cara melihat transmigrasi. Cara pertama, adalah meniliknya dari segi kultural. Ada satu pra-anggapan yang tak boleh digugat di sini yaitu bahwa pemindahan dan perpindahan dianggap sebagai keputusan yang niscaya. Tetapi bagaimana menjelaskan bahwa justru pemindahan dan perpindahan itu ditolak oleh mereka yang dianggap sangat membutuhkannya? Tidak sulit mencari jejak-jejak penolakan. Dia jelas dilihat dari perbandingan antara penduduk yang mengayun langkah ke luar Jawa dan penduduk yang tinggal di Jawa, dibandingkan lagi dengan penduduk yang mengalir masuk ke Pulau Jawa. Perbandingan tersebut tidak akan seimbang. Kesimpulan yang diambil dari sini adalah bahwa tidak ada kemauan untuk berpindah, daya gerak yang lamban. Secara teknis disebut bahwa migrasi perilaku penduduk Jawa berada dalam kadar terlalu rendah, sebuah pernyataan yang patut dipertanyakan kebenarannya. Faktor yang dianggap paling mengerem proyek transmigrasi adalah karena sikap mental yang tidak dapat diubah lagi: semangat berkumpul. Keterikatan kultural seseorang dengan tanah dan keluarganya yang menyebabkan lava dan api gunung Merapi lebih menarik dari hijaunya sawah di pulau seberang. Karena itu menjamin keberhasilan transmigrasi harus ada perubahan dalam pandangan dan sikap. Hanya perubahan tersebutlah yang menentukan apakah seseorang akan berpindah ke tanah seberang.

Namun ada yang melihat transmigrasi dari segi struktural. Secara negatif pandangan ini mencoba mengatakan bahwa persoalan pokok dalam masalah transmigrasi bukan terletak dalam keputusan mau atau tidak mau, adanya sikap mental yang mendukung atau tidak mendukung untuk mengayun langkah ke luar Jawa dan sebagainya. Akan tetapi adanya struktur sosial-ekonomis yang tidak memungkinkan seseorang untuk meninggalkan Jawa. Struktur ekonomi adalah sedemikian rupa sehingga jauh lebih mudah seseorang meninggalkan daerahnya masing-masing di luar Jawa dan membanjiri Jawa daripada bergerak sebaliknya. Ini berarti bahwa tanpa memperhatikan faktor struktural dalam sistem sosial-ekonomis secara keseluruhan, menggalakkan program transmigrasi tidak lain artinya daripada mengajak orang berenang melawan arus. Dengan kata lain bila transmigrasi berbarengan adanya dengan kebijaksanaan yang sifatnya memelihara status quo, maka struktur tersebut pada gilirannya akan melahirkan suatu kultur baru. Dalam kultur yang baru lahir pula persepsi yang baru yang semata-mata melihat wajah-wajah buram dalam diri mereka yang disebut transmigran. Dan yang lebih menyiksa lagi karena di dalamnya bukan saja wajah buram, tetapi wajah mereka yang ditolak dari masyarakat lamanya. Kalau dia merasa bahwa dia ditolak, maka dengan segenap tenaganya dia akan berusaha untuk kembali. Di saat seperti itu lava gunung Merapi bukan rintangan tetapi malah berbalik menjadi dian yang senantiasa melambai mengajaknya kembali.

Beberapa ahli lain mencoba menawarkan pemecahan masalah transmigrasi dari segi struktural. Salah satu yang diajukan adalah pergeseran dalam struktur lapangan kerja. Yang dibutuhkan bukanlah memindahkan orang Jawa ke luar Jawa akan tetapi menciptakan lapangan kerja di luar Jawa; dengan demikian menarik tenaga kerja dari Jawa dan dari daerah lainnya. Dan suatu yang berhubungan erat dengan itu adalah bahwa pembangunan daerah seharusnya lebih mendapat perhatian. Selama pembangunan masih terpusat di pusat maka daerah di luar Jawa masih tetap menjadi daerah yang tidak menarik untuk dihuni termasuk oleh yang bertumpah darah di sana. Dan bila daerah di luar Jawa dibuat menjadi semakin tidak menarik maka kita sebenarnya tengah berupaya untuk memangkas pangkal keberadaan transmigrasi itu sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan