Prisma

‘Dekonstruksi’: Sebuah Orientalisme Baru untuk Jawa?

Politik, menurut Foucault, tidak ditentukan oleh siapa yang memenangkan pertandingan, tetapi oleh siapa yang membuat aturan permainan. Kebudayaan menurut pengarang ditentukan oleh siapa yang menentukan penggunaan suatu sistem lambang. Dengan menerapkan konsep dekonstruksi, ia menguraikan politik kebatinan sebagai pertarungan antara sistem-sistem epistemologis.

KATA-KATA yang memancing perhatian di kalangan ahli teori kebudayaan masa kini adalah: semiotik, pasca strukturalisme, pasca modernisme, dan dekonstruksi. Sebagai seorang pemula di bidang ini, saya memberanikan diri untuk memberikan komentar dalam rangka suatu evaluasi pendahuluan tentang dampak teori-teori kritis atas studi tentang Jawa. Karya-karya yang dibahas tidak menitikberatkan paham kebatinan (mistik) serta tidak terkait langsung dengan pasca modernisme sekalipun karya-karya tersebut memperjelas beberan masalah yang relevan baik dengan pasca modernisme maupun dengan interpretasi mengenai tempat mistisisme di Jawa. Dalam tarikan nafas yang sama, saya mengritik tetapi sekaligus juga menerapkan konsep dekonstruksi, kadang-kadang namun tidak selalu, atas karya-karya yang juga menerapkannya. Tujuan penulisan ini adalah sekadar menyajikan permasalahan, bukan untuk memecahkannya atau menampilkan hasil telaah karya ilmiah yang tidak berat sebelah. Sebab saya hanya menyinggung sepintas lalu karya-karya yang saya sebutkan itu, kajian saya hanyalah sekadar menyentuh garis-garis tepi dari hakekat tujuan para penulisnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan