Tujuan beragama
Di dalam ajaran Hindu Dharma atau Agama Hindu disebutkan suatu prinsip ajaran yang berupa formula dalam bahasa Sansekerta yang berbunyi sebagai berikut: “Moksa artham Jagadhitaya ca iti dharmah“, artinya, adapun tujuan beragama ialah untuk mencapai “jagadhita” dan moksa“. “Jagadhita” berarti kesejahteraan jasmani, “moksa” berarti ketentraman batin, kehidupan abadi di akhirat dan penunggalan dengan Tuhan, sedang “iti dharmah” berarti inilah beragama.
Memperhatikan formula ajaran Hindu dalam bahasa Sansekerta tersebut, kiranya ada persesuaian antara ajaran Hindu dengan pola kehidupan bangsa dan negara kita yang berdasarkan falsafah Pancasila, dan sesuai pula dengan arah pembangunan nasional yang bertujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya. Om paramewaraya namo namah. Om sembah sujud kita kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga dirahmatilah bangsa dan negara kita sehingga tercapai cita-cita bangsa untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir, bahagia batin. Semoga diselamatkanlah bangsa dan tanah air kita dari segala bencana dan malapetaka yang menghambat tercapainya cita-cita yang mulia dan suci itu. Kiranya tiada suatu negara atau bangsa yang mulia di abad ini yang secara jelas menggariskan pola pembangunannya dengan tujuan membangun atau membentuk manusia seutuhnya, membangun manusia yang dapat menikmati kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.
Dunia modern di masa kini telah dilanda oleh kecenderungan kepada kehidupan serba benda (materialisme) yang berlebih-lebihan, sehingga lupa daratan akan kebahagiaan rohani yang bersumber pada batinnya sendiri. Di manakah sebenarnya kebahagiaan itu, dan apakah hakekat kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu terdapat di luar hati manusia, apakah di luar emosi manusia?
Kebahagiaan adalah salah satu unsur jiwa (psychological traits), salah satu unsur emosi yang sama dengan unsur-unsur emosi lainnya: unsur-unsur perasaan, seperti rasa sedih, kasih sayang, terharu dan sebagainya. Unsur-unsur jiwa atau unsur emosi ini terdapat di dalam diri manusia, di dalam tubuh makhluk dan bukan di luar tubuhnya. Itulah sebabnya disebutkan di dalam filsafat, bahwa kebahagiaan bersumber di hati sanubari. Kebahagiaan adalah di dalam emosi makhluk. Obyek-obyek atau benda-benda yang menyebabkan perasaan bahagia hanyalah merupakan alat atau sarana semata-mata dan tidak identik dengan kebahagiaan itu sendiri. Obyek atau benda yang memberi kebahagiaan bukanlah merupakan tujuan, melainkan sekedar alat atau sarana. Tujuannya ialah kebahagiaan hati itu yang bermukim di dalam tubuhnya sendiri.