Prisma

Di Balik Mitos Angkatan 66

Tahun lalu, ketika ketemu Nono Anwar Makarim yang pulang kampung mengumpulkan bahan tesisnya, saya bertanya bagaimana pendapatnya tentang angkatan muda di Indonesia setelah sepuluh tahun lebih sejak kebangkitan 1966. “Berapa umur bung sekarang,” Nono balik bertanya. “Hampir tigapuluh.” “Di Amerika orang mengatakan bahwa setelah tiga puluh tidak ada revolusioner.” Di atas umur 30 tak ada lagi yang revolusioner. Saya kira bukanlah maksud Nono untuk mengatakan bahwa tokoh-tokoh apa yang kita kenal dengan Angkatan 66 adalah kaum revolusioner dahulu, dan kejadian sekitar tahun 1966 adalah revolusi. Tapi dari ucapan itu saya menangkap isyarat apologetic dalam melihat kembali rentetan perjalanan hidup Angkatan 66 itu. Sebagaimana sudah kita tahu, di kalangan para tokoh Angkatan 66 dalam KAMI, perpecahan memuncak ketika di tahun 1967 sebagian dari mereka memilih jadi anggota MPRS. Yang menentang langkah itu berpendapat bahwa KAMI dan Angkatan 66 pada dasarnya adalah “kekuatan moral” sehingga tak patut melibatkan diri dalam “politik praktis.” Kalau beberapa tokoh toh terus berkeras memilih menjadi anggota MPRS, seharusnyalah tidak atas nama KAMI, melainkan atas nama diri sendiri belaka. Sebaliknya, mereka yang memilih jadi anggota MPRS berpendapat bahwa saatnya sudah tiba untuk meneruskan perjuangan KAMI “dari dalam.”

Kemudian hari, ketika muncul berbagai pertanyaan tentang peranan yang sesungguhnya harus dimainkan oleh angkatan ini, tentang kesetiaannya terhadap “koreksi total” yang jadi perjuangannya dahulu, dua bagian yang saling bertentangan itu ternyata cenderung memberi jawaban yang sama sifatnya: bernada membela dan “memaafkan”, apology.

Salah satu kesulitan terbesar untuk melihat episode Angkatan 66 adalah anggapan kuat angkatan ini telah memainkan peranan besar bahkan menentukan dalam peristiwa bersejarah sekitar tahun 1966. Dan dari anggapan ini menurun anggapan lain bahwa patutlah mengharapkan peranan yang sama daripadanya setelah sepuluh tahun lebih kemudian, kala kehidupan nasional nampaknya mulai menimbulkan banyak ketidakpuasan. Ketika harapan itu tidak terbukti, bahkan lebih-lebih bahwa beberapa tokoh angkatan itu menunjukkan cara hidup dan peranan yang nampak bertolak belakang dengan anggapan tersebut, muncullah semacam rasa menggugat di hati banyak orang. Terhadap hal ini, tokoh-tokoh dari kedua pihak yang disebut tadi senantiasa bersikap apologetic. Dalam wawancara khusus dengan Cosmas Batubara tentang peranan Angkatan 66 selama 11 tahun ini, hal itu nampak jelas berulang kali. Dikatakannya bahwa dengan kejatuhan kekuasaan “Orde Lama” tak ada lagi yang bisa dituntut dari Angkatan 66.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan