Peristiwa-peristiwa bisa diurut satu di samping atau di atas yang lain dalam suatu susunan. Dari padanya muncul alur-alur yang menjadi benang merah yang disebut cerita. Bilamana cerita tersebut bukan tentang dongeng dalam dunia khayalan, akan tetapi tentang peristiwa pada masa lalu, dan terutama tentang apa sesungguhnya rupa masa lalu itu, maka hampir semua orang setuju untuk menyebutnya sejarah. Maka dalam sejarah ada susunan fakta, urutan kejadian yang sesudah yang lain. Namun ternyata sejarah bukan semata-mata urutan fakta. Bila hanya terdiri dari urutan fakta maka dia adalah sebuah kronik. Bilamana sejarah semata-mata dipahami sebagai kronik, maka sudah dari mula cakrawalanya sudah dipersempit. Sejarah dalam pengertian kronik menjadi statis.
Sejarah lebih dari sekedar kronik, karena dalam sejarah juga terkandung pikiran yang hidup dari dan tentang masa lampau. Dalam hubungan itu tugas historiografi bukan saja mencari kebenaran masa lalu, what the past is really like, akan tetapi berdasarkan itu membandingkannya dengan masa kini. Dan agaknya Benedetto Croce, sejarawan Italia, tidak terlalu jauh meleset bila dia katakan sejarah yang benar adalah sejarah masa kini. Dalam pengertian itu sejarah berubah wajah. Dia bukan lagi urutan fakta, tetapi sejarah menjadi proses yaitu interaksi yang tak berkeputusan antara manusia dan manusia lain di masa kini yang mengambil dimensi kelampauan dan kekinian, dan sejarah juga adalah dialog antara manusia masa lampau dan manusia masa kini. Maka sejarah tampil sebagai suatu totalitas.
Namun cara bagaimana dialog berlangsung sering membangkitkan masalah. Struktur sosial dan politik masyarakat masa kini sangat menentukan corak, atau, untuk lebih t epat, dimensi sejarah yang ditulis. Bilamana kesadaran yang dibangkitkan sejarah memperkaya kepribadian nasional, bilamana dialog dengan sejarah mampu merumuskan jawaban bagi tantangan masa kini, maka dialog dengan sejarah menemukan bentuknya. Tetapi tidak jarang terjadi sejarah menjadi alat pembenar paling ampuh. Sejarah hanya menjadi argumen pembenar. Sejarah yang diambil dalam arti ini sebenarnya tidak lebih dari usaha mencari legitimasi. Dan bila demikian halnya maka sejarah bukan lagi proses dialoga tetapi monologia. Di sana masa lampau bukan pendamping tapi taklukan. Monologi terjadi bilamana kepentingan menjadi segalanya. Berdasarkan kepentingan, peranan yang dulu pernah dimainkan dilebih-lebihkan. Maka sejarah menjadi sama keringnya seperti sejarah dalam arti kronik.
Siapakah yang dalam tingkatan sekarang memutuskan bahwa kemerdekaan adalah semata-mata hasil perjuangan bersenjata dan bukan diplomasi? Sebaliknya siapakah yang berani mengatakan bahwa kemerdekaan semata-mata direbut oleh diplomasi dan bukannya dengan perjuangan bersenjata? Diskusi tentang ini mungkin berjalan tak berpenghabisan. Akan tetapi yang bisa diamati adalah bahwa struktur sosial dan politik masa kini memegang peranan yang menentukan jenis konfigurasi fakta-fakta yang berada di seputar kemerdekaan. Fakta mentah historis bergeser hanya karena kemerdekaan menjadi sumber tertinggi dalam memberikan legitimasi bagi setiap kelompok yang berkuasa, atau setiap kelompok yang berusaha menjadi penguasa. Setiap kali orang berusaha mematikan dialog dalam sejarah, tampak bahwa sejarah telah diturunkan menjadi hanya sebuah kronik kering yang tidak menggairahkan. Dan hal tersebut bisa sedemikian rupa sehingga usaha membangkitkan semangat kepahlawanan menjadi permainan.
Sejarah kemerdekaan adalah episode dalam sejarah yang paling banyak mengalami penulisan ulang. Ditilik dari sejarah sebagai dialogia, penulisan ulang adalah usaha menarik, karena dalam setiap proses penulisan ulang tersebut tercatat pula perkembangan baru yang tadinya tidak dilihat. Pernah ada saat di mana masa-masa di seputar merebut dan mempertahankan kemerdekaan disebut revolusi. Namun, kini kata itu tidak lagi mendapatkan tempat, tapi diganti dengan perang kemerdekaan dan setiap saat dihidupkan dalam visualisasi sebagai perang. Pergeseran ini bukan saja menunjukkan perubahan tekanan akan tetapi perubahan dalam hal yang sangat hakiki dalam sejarah yaitu memutarbalikkan proses dan membuatnya hanya satu arah sedemikian rupa sehingga menjadi monologia. Namun bilamana hal ini terlalu jauh berlangsung atau bilamana kepentingan legitimasi berada di atas segala-galanya sehingga dialog dengan sejarah terputus,-maka sekali lagi sejarah mengalami penyempitan cakrawala. Fakta menjadi identik dengan litania keberhasilan, dan setiap keberhasilan menjadi legitimasi baru. Tetapi dengan itu dia membunuh dialog. Dan setiap kali dialog dengan sejarah dimatikan, maka sejarah bukan lagi sejarah.