Huub de Jonge, Madura Dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, Dan Islam (Jakarta: Gramedia, 1989), xxvi + 316 halaman
Mendengar nama Madura seringkali orang diingatkan pada beberapa karakteristik unik mengenai kondisi alam dan kehidupan masyarakatnya. Madura adalah pulau garam, keadaan tanahnya tandus, dan kering-kerontang, maka tidak mengherankan jika kemiskinan mencengkeram sebagian besar penduduknya. Namun di balik kemiskinan itu, masyarakatnya taat menjalankan perintah dan larangan agama Islam, sehingga mereka termasuk kategori santri. Stereotip yang lain adalah, orang Madura pendendam, sukar melupakan dan memaafkan orang yang menyinggung perasaannya. Madura juga dikenal karena ada karapan sapi yakni pesta pacuan sapi yang di dalam arena tersebut menyangkutkan banyak aspek sosial-ekonomi dan sosial-budaya. Sementara itu, orang juga akan ingat pada senjata tradisional Madura, clurit, yang dalam penggunaannya seringkali berkaitan dengan dunia kriminalitas. Dan tentu juga orang akan bicara tentang tukang sate dan soto Madura, yang khususnya hampir dapat ditemukan di berbagai kota kecil dan besar di Jawa.