Seperempat abad Revolusi Hijau di Jawa selain telah memecahkan teka-teki pertumbuhan produksi pangan, khususnya beras, juga makin menggoyahkan pranata distribusi “pemerataan patron-klien”. Mengacu pada penelitian kualitatif di Kedu, ada petunjuk bahwa tekanan penduduk dan orientasi pemodal, berpihak pada cara produksi dan belanja lapisan petani atas daripada bawah. Tetapi mengapa pranata distribusi alternatif yang lebih kerakyatan susah munculnya? Jawabnya dapat direntang dari kuatnya hegemoni negara sampai budaya ekonomi nrima dan pasrah petani Jawa. Francis Wahono Staf Pengajar
* Karangan ini adalah ringkasan dari tiga kertas kerja yang pernah disampaikan, secara berurutan, pada: Konferensi “Indonesia Culture: Asking the Right Questions” yang diorganisasi oleh Asian Discipline, Flinders University of South Australia, 28 September – 3 Oktober 1991 di Adelaide; Seminar Dua Mingguan di Lembaga Studi Realino, Yogyakarta, tanggal 5 Maret 1992; dan Colloquium pada program Pasca-Sarjana, Fakultas Sosial Ekonomi, Institut Pertanian Bogor, Indonesia, tanggal 13 Maret 1992. Karangan ini merupakan bagian dari studi yang dibiayai oleh AIDAB-Australia melalui program Equity and Merit Scholarship dan penelitian tahap terakhir sebagian besar dibiayai oleh Ford Foundation, USA.