Melihat pada keadaan umat Islam, sebagai dinyatakan oleh sejarah tujuh ratus tahun, terutama tiga ratus tahun terakhir, timbul kesan bahwa dalam Islam dinamika tidak ada, ilmu pengetahuan dan teknologi tak dapat berkembang dan hari depan umat banyak bergantung pada nasib. Dengan lain kata, peninjauan ke dalam sejarah umat sesudah abad ketigabelas Masehi menimbulkan kesan bahwa ajaran Islam membawa umat kepada sikap pasif dan tidak memainkan peranan dalam penentuan keadaannya di masa kini maupun keadaannya di masa depan. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap manusia? Manusia lemahkah ia dan oleh karena itu memiliki sikap pasif, ataukah ia manusia yang memiliki kekuasaan dan dengan demikian memiliki dinamika? Dihubungkan dengan iman, manusia adalah makhluk Tuhan. Ketinggian, keutamaan dan kelebihan manusia dari makhluk lain terletak pada akal yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Akallah yang membuat manusia memiliki kebudayaan dan peradaban tinggi. Akal manusialah yang mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan selanjutnya ilmu pengetahuan dan teknologilah yang membuat manusia dapat merubah dan mengatur alam sekitarnya untuk kesejahteraan dan kebahagiaannya, baik di masa kini maupun di masa mendatang. Memang akallah yang membuat manusia berbeda dari hewan dan oleh karena itu dalam filsafat disebut bahwa manusia adalah hayawan natiq, binatang berbicara atau berfikir.
Kalau begitu pentingnya peranan akal dalam kehidupan manusia, perlu dipelajari kedudukan akal dalam ajaran Islam. Apakah kedudukannya rendah sehingga membuat Islam berada dalam keadaan seperti yang digambarkan di atas? Penyelidikan ke dalam Al-Qur’an dan Hadis, sebagai kedua sumber asli dan utama dari ajaran-ajaran Islam, membawa kepada kesimpulan sebaliknya. Akal, di samping wahyu, memiliki peranan penting dalam Islam. Wahyu membawa ajaran-ajaran dasar, yang selain jumlahnya tidak banyak, hanya memberi ketentuan-ketentuan dalam garis besar. Penafsiran, cara pelaksanaan dan perincian ajaran-ajaran dasar itu diserahkan kepada akal manusia menentukannya. Mengenai masalah-masalah kehidupan manusia, terutama kehidupan di dunia, yang tidak disebut dalam Al-Qur’an dan Hadis, itu diserahkan pula kepada akal manusia untuk menyelesaikannya sesuai dengan jiwa ajaran-ajaran dasar tersebut di atas. Akal memang memiliki peranan penting dalam Islam. Kata akal yang telah sejak lama kita pakai dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Arab al-‘aql. Kata al-‘aql sebagai kata benda tidak dijumpai dalam Al-Qur’an, tetapi dalam bentuk kata kerja terdapat dalam lebih dari 50 ayat: a. a fala ta’qilun (15 ayat) = tidakkah kamu berfikir; b. la’allakum ta’qilun (8 ayat) = semoga kamu fikirkan; c. la ya’qilun (7 ayat) = tidak mereka fikirkan; d. in kuntum ta’qilun (2 ayat) = jika sekiranya kamu fikirkan.