Sebuah Konstruksi Anekdotis Politis
Bentuk komunikasi verbal yang dipertahankan sebagai penafsir tindakan tampaknya selalu menandai bidang inti kebudayaan yang amat dilembagakan. Dinamika komunikasi dalam masyarakat Jawa yang disebut plesetan mungkin merupakan sebuah penafsir baru kebudayaan. Sebagai konsolidasi perlawanan, bahasa ini tidak “bermain” di hamparan tuturan langsung, tetapi ia adalah “pemain” yang baik dalam tuturan simbolik. Namun, menurut Christanto P. Rahardjo, tanpa pemahaman yang memadai terhadap substansi “Jawa,” bukan tidak mungkin konstruksi inferensi plesetan akan kehilangan signifikansinya.
Analisa kebudayaan setidak-tidaknya harus relevan terhadap pemahaman tingkah laku sehari-hari dalam pelbagai dimensi yang senantiasa berubah. Seringkali seorang terpaku pada kelangsungan gagasan, meskipun ia berhadapan dengan perubahan, di mana bisa diharapkan timbulnya gagasan baru pengganti gagasan yang ada. Akibatnya jelas, seseorang atau komunitas tersebut dipastikan tidak akan menemukan “banyak hal” (misalnya humor, komentar politis, sosial ataupun “pernyataan-pernyataan” arif tentang situasi tertentu).
Gagasan atau bahkan bentuk-bentuk komunikasi verbal yang tetap dipertahankan sebagai pedoman dan penafsir tindakan, kendati berlangsung perubahan struktural dan perkembangan global, akan menandai bidang-bidang inti kebudayaan yang sensitif yang amat dilembagakan. Tulisan ini berupaya memahami bagian inti semacam itu, terutama melalui dinamika komunikasi Jawa yang disebut plesetan.1
Pemikiran Filosofis
Bagi dunia Jawa, plesetan bisa jadi merupakan gagasan kesemestaan manusia yang sedang mengalami perkembangan dari keadaan ketika ia diterima sebagai fakta inferensi (pemikiran logis) yang tidak terpisahkan dari eksistensi kejawen,2 yang tidak terpisahkan dari kesanggupan masyarakat Jawa untuk mengembangkan akal budi secara penuh, serta keharusan beradaptasi biologis terhadap alam.3 Bahkan, bahasa plesetan Jawa secara halus — tentu saja tidak kasat mata — merupakan semacam “konsolidasi” perlawanan secara simbolis.
Konsolidasi perlawanan melalui simbol justeru sangat penting dan menentukan. Simbol merupakan dunia batin (inner-world), bukan dunia wadag (outer-world). Simbol-simbol bahasa adalah salah satu aspek puncak kesadaran diri budaya Jawa yang begitu kuat, terlebih-lebih bila hal ini untuk melaksanakan integritas dan kemampuan menemukan “jalan” dalam menyesuaikan diri dengan dunia moderen dan perubahan sosial.4
Bahasa plesetan adalah soal budaya manusia Jawa. Ia memungkinkan munculnya pemikiran filosofis dari kandungan sintaksis gramatikal bahasa, luasnya kemungkinan bahasa sebagai sarana berpikir, wahana ungkapan maupun ideologis. Namun penggunaan bahasa khas ini tidak mungkin dapat dipahami dengan baik tanpa pengertian konseptual bahasa itu sendiri secara tepat. Bagaimana pun bahasa plesetan merupakan bahasa yang mampu “membina” model tentang dunia nyata yang mempengaruhi dan menguasai kehidupan sebagian individu dan masyarakat.5
Banyak contoh sederhana bidang jiwa dan masyarakat di mana sistem bahasa menunjukkannya: nama warna; sistem kekerabatan; sistem tense dan gender; sistem aktif-pasif.6 Boleh dikatakan budaya-bahasa plesetan adalah “fenomena kelakuan” sangat khas orang Jawa — mereka yang selama ini dituding oleh para javanis tidak menyukai perubahan dan inisiatif.7 Namun dengan merebaknya budaya plesetan, harus diakui bahwa anggapan tersebut tidak seluruhnya benar.
1 Goenawan Mohamad dengan jitu menjelaskan istilah plesetan sebagai kemahiran spontan orang Jawa untuk menempatkan satu kata atau kalimat yang mendadak menjadi lain. Lihat Umar Kayam, Mangan Ora Mangan Kumpul (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1990). Secara semantik semiotik mekanisme plesetan bisa disejajarkan dengan masalah inferensi maupun non-inferensi yang lazim menekankan “signifikasi” dan komunikasi; lihat, A. Vibodi Varga (ed.), “Interprétation et Sèmiotique” dalam Thèorie de la Littèrative (Paris: A. et J. Picard, 1981).
2 Kejawen adalah istilah mistik. Perlu diketahui bagi orang Jawa dewasa ini, sebenarnya mistik dan praktek magis-mistis senantiasa merupakan arus bawah yang amat kuat bahkan esensi dari kebudayaannya. Sebagai bukti, Islam yang datang ke Jawa adalah Islam sufi yang dengan mudah diterima, diserap ke dalam sinkretisme Jawa; lihat, Niels Mulder, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa, Kelangsungan dan Perubahan Kulturil (Jakarta: PT Gramedia, 1983); James L. Peacock, Indonesia: An Antbropological Perspective (Pacific Palisades, Cal.: Goodyear Publishing Co. Inc., 1973).
3 Potret orang Jawa seperti dalam Kata Pengantar Goenawan Mohamad terhadap tulisan-tulisan Umar Kayam, tidak bisa dilihat secara ekstrem: banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup tak pernah jadi proses yang soliter. Hidup Jawa model Kayam enak dinikmati karena ia, secara spontan dan konsisten, memberi kearifan dalam memandang hidup. Kuncinya terletak dalam kalimat ngono ya ngono, nanging aja ngono (bersikap begitu boleh-boleh saja, tetapi jangan begitu); lihat, Kayam, op. cit.
4 Zaman telah berubah, namun kebudayaan dan identitas dasariah Jawa tidaklah banyak berubah dan orang Jawa amat sadar serta bangga dengan kontinuitas kebudayaan mereka; lihat, Niels Mulder, op. cit. Kemudian Ben Anderson mengatakan, bahwa kepercayaan diri merupakan landasan emosional dan psikologis bagi toleransi Jawa. Kebanggaan begitu mendarah daging, sehingga hampir apa saja dapat ditolerir, asalkan dapat diadaptasi atau diterangkan dari sudut pandang hidup Jawa; lihat, Benedict R’O.G. Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese (Ithaca: Cornell University, Modem Indonesia Project, 1965), hal. 5.
5 Jurij M. Lotman, seperti dikutip Teeuw, menjelaskan, bahwa bahasa merupakan: primäres modellbildendes System. Bahasa merupakan “Durch ihre Struktur allein ubt sie eine gewaltige Wirkung aus auf die Psychik des Menschen und auf viele Bereiche des sozialen Lebens.” Lihat A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra (Jakarta: PT Gramedia, 1983), hal. 2 dan Jurij M. Lotman, Die Struktur literarischer Texte, Ubersetzt von Rolf-Dietrich Keil (Munchen: Wilhelm Fink Verlag, 1972), hal. 23.
6 Teeuw, op. cit., hal. 2.
7 Lihat Fachri Ali, Refleksi Pabam “Kekuasaan Jawa” dalam Indonesia Modern (Jakarta: PT Gramedia, 1986), hal. 11 dan Franz Magnis Suseno, “Etika sebagai Kebijaksanaan Hidup: Catatan tentang Struktur Etika Jawa,” dalam F. Magnis Suseno dan S. Reksosusilo, Etika Jawa dalam Tantangan: Sebuah Bunga Rampai (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1983), hal. 94.