Pendahuluan
Sebuah lagu yang merdu di tengah-tengah imbauan irama diskusi masalah pembangunan dewasa ini, adalah seruan tentang perbaikan distribusi pendapatan masyarakat. Kalau dalam dasawarsa-dasawarsa 1950-1960 dan 1960-1970 istilah-istilah yang menonjol adalah laju pertumbuhan ekonomi, tahapan pembangunan ekonomi menurut konsep W.W. Rostow, tingkat pembentukan modal masyarakat serta produktivitas sumber-sumber pembangunan diukur dalam angka rata-rata makro-ekonomi, maka dalam dasawarsa yang kini sedang berjalan, hampir setiap kajian masalah pembangunan, selalu diwarnai oleh seruan perbaikan distribusi pendapatan. Bahkan Bank Dunia, yang dianggap merupakan kubu pertahanan kaum modal yang mendewa-dewakan efisiensi dan laju pertumbuhan ekonomi, dalam dasawarsa terakhir ini telah merubah garis kebijaksanaannya dan menandaskan, bahwa sasaran utama proyek-proyek pembangunan yang dibiayainya, adalah perbaikan distribusi pendapatan di negara-negara yang sedang berkembang.
Pada saat dunia disilaukan oleh gemerlapnya prospek Revolusi Hijau, timbul harapan penuh bahwa penemuan benih unggul padi, gandum dan jagung akan memecahkan masalah kekurangan produksi pangan dunia. Bahkan diramalkan, bahwa peningkatan produksi pangan itu sekaligus akan meningkatkan pendapatan petani kecil serta memajukan kesejahteraan rakyat secara merata di daerah pedesaan. Harapan-harapan cemerlang itu kemudian diteguhkan oleh pengamatan-pengamatan dan hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi, yang di sementara tempat, menunjukkan, bahwa Revolusi Hijau, meskipun secara makro meningkatkan produksi pangan dan pendapatan masyarakat, dalam kenyataan pelaksanaannya hanya dapat dimanfaatkan oleh lapisan petani mampu, hingga melebarkan jurang antara si kaya dan si miskin. Pendapat orang mengenai hasil Revolusi Hijau menjadi bercabang. Sebagian berpendapat bahwa Revolusi Hijau memperburuk distribusi pendapatan, sedangkan sebagian yang lain mengemukakan bahwa Revolusi Hijau berakibat adanya perbaikan distribusi pendapatan, atau sedikitnya tidak merubah ke arah situasi yang lebih jelek.