Prisma

Dominasi dan Seni Perlawanan

Catatan-catatan Terselubung

James C. Scott, Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts, New Haven & London: Yale University Press, 1990, xviii, 251 hal.

Di dalam buku ini, James Scott berupaya melakukan dua hal yang terlihat amat ambisius. Pertama, dia berusaha memperluas analisa dua buku terakhirnya mengenai masyarakat tani dengan mengembangkan cara pendekatan lebih umum dalam menginterpretasikan sifat-sifat sistem dominasi dan hegemoni, serta cara kaum lemah untuk bertahan, melawan, dan sesekali mendobrak hubungan-hubungan subordinasi yang mengungkungnya.1 Kedua, dia memilih kanvas teramat luas untuk melukis gambaran komparatifnya. Kanvas ini mencakup beragam contoh: budak, hamba budak, warga pariah Hindu, warga kelas bawah dalam jaman feodal, bangsa jajahan, dan macam-macam ragam manusia tertakkan dari awal jaman moderen sampai dasawarsa terakhir ini.2 Kedengarannya memang fantastis tapi, seperti dia garisbawahi, gerak lingkupnya mencakup “budaya dan jangka waktu historis yang berlainan-lainan (hal. x).”

Seorang teoretikus dengan predileksi kultural jelas akan mengecam cara pendekatan demikian. Tetapi Scott amat percaya universalitas yang terkandung di dalam logika dan mekanisme suatu relasi kekuatan atau kekuasaan yang tidak seimbang. Diapun gigih mendalilkan bahwa, pada intinya manusia dimana dan kapan saja mempunyai sifat dasar yang sama dan tidak bisa diganggu gugat: dalam relung hati paling dalam, sekurang-kurangnya, mereka tidak menerima suatu perlakuan semena-mena yang dipaksakan terhadap mereka oleh sesama manusia, atau suatu hubungan dimana ketidakadilan, penginjakan hak asasi manusia atau kekerasan fisik melulu menjadi bagian mereka.

Titik tolak Scott dalam buku ini adalah pengertian fundamental yang ditarik dari penelitiannya terhadap masyarakat tani di Malaysia: bahwa, bertolak belakang dengan anggapan kebanyakan teoretisi ilmu sosial, kelas-kelas yang secara politis tidak berdaya umumnya sangat sadar akan ketidakadilan sistem opresi di tempat mereka terkurung dan berusaha sangat aktif merintangi. Scott beranggapan bahwa kebanyakan penelitian masyarakat tani mempunyai kecenderungan menelan begitu saja apa yang disebutnya “cerita resmi” (official story) kelas-kelas penguasa mengenai keabsahan kekuasaan mereka di masyarakat. Lebih jauh, kekurangan-kekurangan metodologis ini dilipatgandakan oleh fakta bahwa sembilan dari sepuluh kelas yang “dibawahkan” memandang kritik langsung atau terbuka terhadap “cerita-cerita resmi” tersebut sebagai suatu strategi yang terlalu berbahaya. Scott sendiri mengajukan cara pandang berbeda: politik perlawanan masyarakat tani terhadap suatu sistem opresi bukanlah merupakan suatu politik terbuka, melainkan suatu politik terselubung.

Dominasi, menurut Scott, selalu menghasilkan perpecahan antara apa yang dia sebut “catatan publik” (public transcript) — interpretasi yang diungkapkan secara terbuka mengenai hubungan antara yang berkuasa dengan yang dikuasai — dan “catatan terselubung” (hidden transcript), yang menggambarkan dan terkadang sekaligus melambangkan kritik-kritik halus dan nyaris tersembunyi mengenai kekuasaan.

Yang terakhir ini, sejalan dengan sifatnya, hanya dilontarkan atau diterjemahkan secara diam-diam ke dalam perbuatan, atau dalam alam pribadi. Dalam pemahaman Scott, mereka menciptakan dengan sendirinya suatu wacana samar yang lokasinya, baik secara ideologis maupun geografis, jauh dari arena percaturan politik utama, terutama dari jangkauan atau pengawasan yang berkuasa.

Tak ubahnya jantung, pengidentifikasian terhadap “catatan-catatan” inilah membuat pembuluh-pembuluh darah buku ini mengalir: analisa mengenai cara si lemah menciptakan ruang gerak sosial, merakit ideologi-ideologi alternatif, mengembangkan suatu sub-budaya ketidaksepakatan, menggalang solidaritas teman senasib, dan mengasah teknik serta bentuk-bentuk perlawanan “tidak langsung” seperti mencuri barang milik sang penguasa, berburu tanpa ijin di wilayah pribadi sang tuan tanah, menghindari pajak, mengirim surat kaleng, memanfaatkan anonimitas kerumunan orang banyak untuk menutupi aksi-aksi pemberontakan, menceritakan dongeng rakyat tentang penipu-penipu pahlawan yang selalu berhasil memperdayakan sang empunya kekuasaan, atau mentransformasikan upacara dan acara-acara ritual yang “diperbolehkan” seperti karnaval menjadi suatu ekspresi oposisi terhadap sistem atau penguasa. Cara-cara inilah, menurut Scott, membentuk apa yang disebutnya sebagai “infrapolitik” kaum tertindas. Terminologi ini lahir dari perumpamaan radiasi inframerah (infrared radiation) yang biasanya tidak tampak oleh mata tetapi tetaplah merupakan sesuatu yang tak dapat dipungkiri keberadaan dan tingkat signifikansinya.

Uraian yang ditawarkan Scott, sampai titik ini, memang terkesan tidak terlalu orisinil. Dua sejarawan besar Inggris, Eric J. Hobsbawm dan E.P. Thompson, telah lama mengajukan persepsi yang sama mengenai sifat-sifat intrinsik perlawanan petani. Tetapi, seperti yang telah disinggung, Scott lebih jauh menjelajahi cara pandang tersebut: dia memasukkannya ke dalam kerangka komparatif dan menyilangsuburkannya dengan suatu kesadaran yang lebih mendalam akan sifat-sifat dasar dan kompleksitas kekuasaan — suatu pengakuan sekaligus penghargaan terhadap inspirasi Foucault. Terlebih lagi, ketajaman pisau analisis Scott amat terlihat dari keberhasilannya memilah dan mengupas begitu banyak lapisan sandiwara dalam setiap tutur kata, langkah, gerak isyarat, atau pengamalan suatu prinsip yang kesemuanya mengisi leksikan peranan yang siap dilakonkan baik oleh kubu penguasa maupun yang dikuasai.3


1 Kedua buku tersebut adalah The Moral Economy of the Peasant (London: Yale University Press, 1976) dan Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (New Haven: Yale University Press, 1985).

2 Beberapa contoh yang dipilih Scott ditarik dari perubahan-perubahan drastis yang terjadi di Eropa Timur.

3 Di sini sangat tampak kemiripan dengan metodologi antropologi kultural Amerika yang dipelopori Clifford Geertz dan Victor Turner.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan