Hanya ada satu aksara yang membedakan berita dari cerita, yakni “b” dan “c” di awal kata. Entah kenapa kemudian kita memastikan bahwa berita itu fakta dan cerita fiksi. Dalam kenyataannya, keduanya sama saja seperti apa yang kita baca di media cetak dan yang kita baca dalam buku yang kita baptis menjadi karya sastra. Segala sesuatu yang kita tulis adalah dongeng, dan sebenarnya yang kita lisankan termasuk kategori yang sama. Kalau ada suatu peristiwa yang kita anggap fakta, yang kemudian ditulis oleh beberapa orang yang berbeda dalam media yang berbeda, tulisannya tentu berbeda-beda pula. Semua itu fiksi adanya.
Untuk menjelaskan konsep itu kita hanya memiliki istilah dongeng dalam bahasa Jawa dan Indonesia, istilah-istilah seperti mitos, legenda, folklor, dan sebagainya adalah dongeng belaka. Kita tahu, dongeng tidak memilah-milah fakta dan fiksi—dua konsep yang sebelumnya tidak kita kenal. Kitab-kitab klasik di negeri kita ini sama sekali tidak mengikuti konsep yang memilah- milah itu. Dalam kitab-kitab klasik seperti babad, sureq, dan tambo konsep pemilahan itu sama sekali tidak ada. Dalam Babad Tanah Jawi, misalnya, apa yang biasanya kita anggap sebagai fiksi dan fakta diaduk begitu saja, dan hasilnya adalah sebuah dongeng panjang yang mencakup cerita dan tokoh wayang, Jaka Tarub, dan perang antara bangsa-bangsa Belanda, Jawa, dan Cina. Itulah babad: sebuah wahana yang mewadahi segala macam teks lain yang konon ada kaitannya dengan sejarah dan sama sekali merupakan hasil angan-angan pengarang. Segala rupa teks itu berkerumun dalam teks baru yang boleh saja kita sebut interteks. Kerumunan teks itu sodok-menyodok dan tindih-menindih untuk menciptakan makna.