Prisma

Picture of Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono

mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Penyair, novelis, esais, dosen, pengamat sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra itu dilahirkan di Surakarta, 20 Maret 1940. Menerima banyak penghargaan, terakhir Life Achievement Award dalam Ubud Writers and Readers Festival 2018. Kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; memperdalam pengetahuan tentang humanities di University of Hawaii, AS (1970-1971); mengajar di Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Unirersitas Indonesia (sejak 1974); meraih gelar Doktor Ilmu Sastra (1989) dari FIB-UI. Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Susastra (1995) FIB-UI dan memangku jabatan Dekan FIB-UI (periode 1996- 1999). Salah seorang pendiri Yayasan Lontar (1986) ini pernah menjabat Direktur Pelaksana “Yayasan Indonesia” (1973-1980); redaksi majalah sastra Horison (1973); Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975); anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977-1979); anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia (sejak 1983); anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka (sejak 1987); Sekretaris Yayasan Lontar (sejak 1987); dan lain-lain. Selain aktif menulis puisi, cerita pendek, esai dan kolom/artikel, juga banyak menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Penggagas dan mantan ketua umum organisasi profesi kesastraan di Indonesia, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski, 1988) itu, juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).

Dongeng Pipit

Hanya ada satu aksara yang membedakan berita dari cerita, yakni “b” dan “c” di awal kata. Entah kenapa kemudian kita