Prisma

Dua Wajah dalam Satu Haribaan: Warna-warna Pendewasaan di Pulau Buru

Terdapat tiga pola masyarakat di Pulau Buru sejak tahun 1972, yaitu pola masyarakat penduduk asli pedalaman, pola masyarakat tahanan politik G.30.S/PKI (selanjutnya disebut Tapol), dan pola masyarakat desa keluarga Tapol.

Penduduk asli yang hanya sebanyak kira-kira empat ribu jiwa itu tinggal di kampung-kampung yang terserak di sepanjang lembah sungai Wai Apo dan daerah perbukitan sekitar. Daerah itu seluas kira-kira duaratus lima-puluh kilometer persegi.

Masyarakat Tapol yang, sebagaimana diketahui, dipindahkan secara berangsur-angsur sejak tahun 1969 sampai dengan tahun 1975, menempati duapuluh dua Unit Tempat Pemanfaatan (selanjutnya disebut Unit Tefeat). Unit-unit Tefeat itu pun tersebar di daerah pedalaman, di berbagai penjuru lembah sungai tersebut, dengan bertetangga dekat-dan-jauh kepada kampung-kampung penduduk asli. Yang terdekat, dihitung dari pos penjagaan sebagai titik nol, hanya memerlukan waktu lima sampai sepuluh menit perjalanan kaki, tetapi yang jauh memakan waktu setengah hari atau lebih perjalanan kaki untuk sampai ke salah satu perkampungan. Pada masyarakat Tapol ini yang perlu diperhatikan ialah adanya berbagai faktor. Faktor umur yang telah lepas dewasa, di atas duapuluh tahun, sampai menjelang tujuhpuluhan. Meskipun demikian terdapat tidak sedikit jumlah “anak-anak muda” yang tidak sempat menikmati keindahan usia-remaja mereka dalam suasana kebebasan. Faktor jumlah yang empat kali lebih besar dari jumlah penduduk asli. Faktor asal daerah dan suku, bahwa mereka datang dari berbagai kamp di seluruh Jawa dan terdiri dari hampir semua sukubangsa di tanahair, dengan dominasi jumlah pada suku Jawa. Dua faktor lainnya yang lebih penting ialah, pertama, mereka merupakan satu masyarakat yang homogen dalam jenis kelamin; dan kedua, kehidupan beragama yang saling berdamping dan bertenggang se-damai-damai dan sebaik-baiknya.

Pola masyarakat desa keluarga Tapol seperti pola masyarakat wajar lainnya. Ada lelaki dan ada perempuan, ada usia tua dan usia muda, ada orangtua dan anak-anak baik dalam arti sosial maupun dalam arti biologis. Yang istimewa pada masyarakat ini ialah letaknya tidak jauh dari pantai dan relatif mudah berhubungan dengan ibukota Namlea, dan uniformitas tata-hidup sosial ekonomi desa Savanajaya-demikianlah nama desa masyarakat keluarga Tapol tersebut. Jumlah mereka, angka akhir kwartal pertama tahun 1978, sebanyak 203 kepala keluarga.

Tidak lama lagi, pada akhir tahun 1979 ini nanti, sejarah masyarakat Tapol di Pulau Buru akan berakhir. Bukan saja sebagai lembaga, eksistensi masyarakat pola ini akan hilang, tetapi secara individual masing-masing warganya akan kembali ke daerah asal sendiri dan meninggalkan Pulau Buru mungkin buat selama-lamanya. Tetapi yang pasti adalah bahwa jejak-jejak selama sepuluh tahun mereka niscayalah bukannya tak berbekas. Saling pengaruh yang timbul dari saling hubungan dan saling ketergantungan antara ketiga-tiga elemen masyarakat “Buru baru” tersebut telah terbentuk dan telah tertinggal abadi sebagai goresan-goresan jiwa di lubuk-hatinya masing-masing.

Buru, selanjutnya, akan menjadi sebuah pulau pemukiman bagi kaum transmigran. Kekhususan Buru sebagai daerah transmigrasi, dibandingkan dengan daerah transmigrasi lainnya, walaupun untuk sementara namun tetap akan mencerminkan tiga warga dari tiga pola masyarakat yang berbeda. Pola dan warna penduduk asli, pola dan warna penduduk transmigran sukarela, serta pola dan warna penduduk transmigran non-sukarela. Meskipun yang disebut terakhir itu barang-kali berjumlah paling sedikit, tetapi mereka telah memiliki awal lebih dahulu dengan segala corak hasil perkembangannya.

Oleh karena itu, keistimewaan palaran-palaran atau tipe-tipe polanya kiranya bermanfaat untuk menjadi perhatian. Bukan saja karena merupakan pengalaman baru bagi Indonesia, tetapi juga agaknya di antara satu-dua negeri se-partnership dalam ASEAN ada yang memiliki kasus hampir serupa.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan