Prisma

Dunia Ketiga | Akar-akar Kebudayaan dari Suatu Alternatif Perkembangan*

Krisis-krisis besar akibat kemajuan ilmu dan teknologi serta kenyataan adanya dualisme dunia yang ekstrim antara negara-negara kaya dan miskin, menyebabkan orang berusaha mencari sistem-sistem alternatif dari kebudayaan-kebudayaan bukan Barat. Ironisnya, ketika para cendekiawan Barat mengibarkan panji pemberontakan terhadap perspektif yang dominan, kalangan elite di Dunia Ketiga menjadi pembeli-pembeli yang tekun dari “komoditi” yang bernama ilmu dan teknologi dari Barat. Padahal di sana ilmu itu diperlakukan sebagai alat untuk menguasai bukan saja alam tetapi juga atas lembaga-lembaga sosial dan akhirnya atas hubungan-hubungan antara masyarakat, kebudayaan dan ras-ras. Dalam tulisan ini, Profesor Khothari mempertanyakan apa peranan Dunia Ketiga dalam pencarian alternatif-alternatif tersebut. Agama-agama dan peradaban-peradaban India, dunia Islam, kebudayaan Cina dan Budhisme, sesungguhnya dapat memberi sumbangan besar bagi pencarian alernatif-alternatif dewasa ini.

Tanggapan-tanggapan yang berubah tentang krisis manusia

Sementara diakui bahwa kondisi-kondisi manusia zaman sekarang merupakan suatu krisis yang mendalam, tanggapan mengenai sifat krisisnya dan sebab-sebabnya telah berubah selama dua dasawarsa terakhir. Hingga waktu akhir-akhir ini dan pandangan ini tetap bertahan—krisis itu ditanggapi dalam istilah-istilah perjuangan ideologi antara cara-cara hidup dan sistem-sistem keyakinan yang berbeda, bukan tidak jarang dihubungkan dengan perjuangan untuk kekuasaan antara blok-blok negara yang bersaingan. Sebagian energi manusia dan sumber-sumberdaya dunia diserahkan kepada konflik ini, yang samasekali belum selesai dan yang tidak kecil tanggungjawabnya bagi perlombaan senjata yang dahsyat meliputi dunia dan masih terus berlangsung. Kemudian, sesudah pertengahan tahun enampuluhan dan erosi perang dingin secara berangsur-angsur, perhatian tertumpu pada sesuatu yang lebih langsung dan sangat mendesak, tetapi agaknya luput dari kepekaan manusia demikian lamanya, yaitu pemisahan ekonomi yang besar yang membagi dunia dalam perbedaan menyolok dalam hal kemakmuran dan kekurangan, dengan pemusatan-pemusatan kemiskinan dan kelangkaan, pengangguran serta kekurangan dalam satu bagian umat manusia yang mahaluas, dengan kelimpahan berlebihan, produksi berlebihan dan konsumsi berlebihan dalam bagian lain yang jauh lebih kecil dari jenis yang sama. Lagi pula, kedua ini terpaut bersama dalam suatu hubungan di mana sumber-sumberdaya dari kawasan-kawasan yang lebih miskin untuk waktu yang lama telah dikuras dan terus dikuras dengan alat-alat pemberian yang baru. Beberapa tahun terakhir ini telah menyaksikan keresahan yang kian bertambah mengenai masalah tunggal ketidak-adilan dalam skala dunia, walaupun haruslah diakui bahwa sangat sedikit yang telah dilakukan secara sistematis untuk pemecahan persoalannya; sesungguhnya keadaan telah menjadi kian jelek.

Semua persepsi mengenai sifat krisis manusia ini masih relevan—seperti yang terdapat dalam tumpukan-tumpukan persenjataan yang menggunung dan kian mengerikan di satu pihak, dan kelompok orang-orang sangat miskin yang kian bertambah dan penghidupan kurang makan dalam keadaan sangat berkekurangan, termasuk mati kelaparan, di pihak lain. Tapi barangkali kita perlu berpikir melampaui dimensi-dimensi tunggal dan memperhatikan sebab-sebab yang lebih pokok. Bagaimanapun, kenyataan bahwa seabad kemajuan material yang tak dikenal sebelumnya juga telah merupakan kesengsaraan yang terhantar dan kemiskinan yang kian bertambah: kenyataan bahwa suatu abad yang telah menyaksikan akhir dari kerajaan-kerajaan dan telah melihat fajar kemerdekaan bagi demikian banyak bangsa juga ternyata telah menjadi abad kian didominasinya dunia oleh hanya beberapa negara besar; kenyataan bahwa kendati pun produksi pertanian dunia melampaui pertumbuhan penduduk, persediaan pangan menjadi masalah yang serius bagi jutaan rakyat; kenyataan bahwa pada akhirnya ada terdapat jaringan arus sumber-sumber gizi dari kawasan-kawasan yang lebih miskin di dunia dan berpenduduk lebih kepada kawasan-kawasan yang lebih kaya dan kurang penduduknya; kenyataan bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan “bantuan” dan pemindahan teknologi dan sumber-sumberdaya dari kawasan-kawasan yang diindustrialisasi ke yang tidak diindustrialisasi pada hakekatnya merupakan pengurasan bersih surplus-surplus dari yang belakangan—semua bukti ini dan lain-lain yang sama dari kehidupan terakhir ini mengemukakan bahwa pada dasarnya ada sesuatu yang salah dengan dunia kita dan struktur-struktur global yang telah memungkinkannya. Sesungguhnya, ada sesuatu pada pokoknya tidak beres dengan cara yang ditempuh manusia moderen tentang membangun dunianya.


* Kertas-kerja yang disampaikan pada seminar tentang Pola-pola Alternatif Pembangunan dan Gaya hidup di Asia dan Pasifik. Diterjemahkan dari IFDA Drosier, No. 12, Oktober 1979.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan