Di negara-negara Arab yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terdapat juga penduduk beragama Kristen yang merupakan minoritas dengan jumlah kurang lebih 7 persen. Dalam sengketa Arab-Israel, bagaimana sikap penduduk minoritas Kristen ini? Sengketa tersebut walaupun tampak sebagai perselisihan yang bersifat politik dan nasional, tetapi ternyata juga telah membawa konsekuensi-konsekuensi keagamaan. Menurut William W. Haddad, sebagian besar orang-orang Kristen di negara-negara Arab menganut sikap yang memihak kepada kepentingan Arab dan menentang Israel. Bahkan gereja-gereja Kristen di Palestina yang mewakili 10 persen dari jumlah penduduk, mengambil sikap sejak permulaan perjuangan untuk menyokong perjuangan kepentingan Arab-Palestina dan telah turut memberikan sumbangan besar dalam gerakan pembebasan Palestina.
Sebagai diketahui, orang-orang Kristen adalah golongan minoritas di dunia Arab Jumlah mereka kira-kira hanya 7% dari seluruh penduduk yang mayoritas beragama Islam. Namun, jumlah yang sedikit ini bukan merupakan halangan bagi mereka untuk mengambil bagian yang menentukan baik yang pro ataupun yang kontra dalam sengketa Arab-Israel. Sengketa tersebut walaupun tampak sebagai perselisihan yang bersifat politik dan nasional, dalam artian dua bangsa bertempur untuk menduduki satu wilayah, tokh tidaklah dapat disangkali bahwa hal itu, telah membawa konsekuensi-konsekuensi keagamaan. Kebanyakan orang-orang Kristen, sama seperti kebanyakan orang-orang Islam dan Yahudi, melihat sengketa tersebut melalui kacamata pengertian agama mereka walaupun di sini tidak dengan jelas digunakan simbol-simbol keagamaan untuk tiba pada penyelesaian persoalan. Penafsiran terhadap permasalahan tadi telah diberikan oleh berbagai golongan dalam masyarakat seperti kaum cendekiawan, berbagai golongan agama, dan berbagai pemerintah. Dari seluruh pemerintah yang ada di dunia Arab, maka pemerintah Libanonlah, yang dapat dikatakan secara relatif dikuasai oleh orang-orang Kristen, dan yang sekaligus dipandang oleh negara-negara Arab lainnya sebagai mewakili suara Kristen dalam perselisihan Arab-Israel. Walaupun pada kenyataannya jumlah orang Kristen di Mesir sedikit lebih banyak dari jumlah orang-orang Kristen yang ada di Libanon dan masih ada lagi berbagai kelompok minoritas Kristen tapi juga menonjol di Siria, Jordania, dan Palestina. Jadi memang posisi Libanon adalah unik di antara negara-negara Arab lainnya, dan selain dari itu ia selalu dihubungkan oleh negara-negara Arab lainnya dengan dunia Barat baik dalam soal agama maupun dalam alam pemikiran. Dengan demikian, walaupun luas wilayah Libanon kecil dibandingkan dengan yang lain, karena alasan di atas, suaranya selalu didengar dengan penuh perhatian di kalangan masyarakat Timur-Tengah.
Di pihak lain, Libanon adalah juga salah satu pendiri pertama daripada organisasi Liga Arab, dan dengan hati-hati ia selalu memberikan perjuangan Arab di dalam percaturan politik melalui badan tersebut. Di dalam forum-forum resmi, pemerintah Libanon yang dikuasai terbanyak oleh orang-orang Kristen selalu memihak pada kepentingan Arab yang disalurkan oleh Liga Arab dalam pemecahan perselisihan Arab-Israel. Dengan demikian tidaklah suatu kebetulan bahwa presiden Libanon yang beragama Kristen, atas nama para raja dan presiden negara-negara Arab lainnya untuk pertama kali memperkenalkan Yasser Arafat sebagai kepala P.L.O. kepada para utusan di dalam sidang Umum P.B.B. di tahun 1974.
* Artikel ini disadur oleh Victor I. Tanja dari majalah The Muslim World, No. 2, April 1977.