Pengalaman Korea Selatan dan Filipina*
Pengalaman banyak negara sedang berkembang yang berhasil dan gagal dalam menjalankan pembangunan ekonomi tampaknya masih menarik perhatian berbagai kalangan. Faktor-faktor eksternal dan internal tentu menjadi pendorong atau penghambat pembangunan tersebut. Dengan paparan empirik Korea Selatan dan Filipina dapat diambil pelajaran bahwa cerita sukses pembangunan tidaklah sekedar pencapaian angka pertumbuhan. Tidak tergali dan termanfaatkan secara maksimal elemen endogenous juga merupakan sisi lain yang sering diabaikan.
Pengalaman banyak negara sedang berkembang saat ini, terutama di Asia dan Amerika Latin, masih memiliki daya tarik tersendiri bagi berbagai kalangan. Pengalaman itu menarik karena “kisah sukses” mereka, di samping kegagalan dalam menjalankan pembangunan ekonomi. Keberhasilan dan kegagalan itu sebenarnya bersumber pada external constrains dan faktor internal.
“Kambing hitam” kegagalan adalah keberadaan berbagai perusahaan multinasional yang beroperasi di banyak negara sedang berkembang. Institusi domestik yang tidak mampu mengantisipasi tekanan-tekanan luar mengakibatkan ketergantungan dan kemiskinan yang semakin meningkat, sebagaimana dialami Brasil dan Argentina.1 Tetapi beberapa negara di Asia Timur (Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura) berhasil melakukan perubahan institusional secara mendasar di bidang politik, sosial, dan ekonomi yang dapat mengakomodasi baik tekanan dari luar maupun tuntutan dari dalam negeri serta memiliki kemampuan luar biasa melakukan self-adjustment.2
* Dengan beberapa revisi, tulisan ini pernah dipresentasikan dalam Seminar Nasional AIPI XIV, “Pembangunan Politik dan Pemerintahan Desa,” Jember, 9-10 Juli 1996.
1 Lihat, Barnet and Muller, Global Reach: The Power over Multinational Corporations (New York: Simon and Schuster, 1974).
2 Lihat, Stephan Haggard, Pathways from the Periphery: the Politics of Growths in the Newly Industrializing Countries (Ithaca and London: Cornell University Press, 1990).