Prisma

Dunia Ketiga_Iran: Komunikasi, Alienasi, Revolusi*

“Kami berjuang melawan otokrasi, untuk mencapai demokrasi dengan memakai xerocracy”. Seorang Profesor Universitas Teheran, Oktober 1978.

Pergolakan-pergolakan dramatis baru-baru ini di Iran memungkinkan penafsiran yang berbeda-beda. Penafsiran yang paling masuk akal akan berfokus pada faktor-faktor yang tampak paling jelas: suatu sistem penindasan politik yang kejam dan tertutup; wabah korupsi dan ketidakadilan yang dipertontonkan secara begitu terbuka; politik liberalisasi yang separuh-separuh selama tahun 1977-1978 yang mengobarkan perlawanan oposisi tanpa memperoleh dukungannya; sebuah revolusi harapan yang meningkat yang disusul oleh frustrasi-frustrasi yang mencapai puncaknya ketika oil boom di tahun-tahun tujuhpuluhan menciptakan dislokasi-dislokasi sosial dan ekonomis diiringi oleh inflasi yang melangit; dan respons-respons yang khas, dari sebuah masyarakat yang sebagian besar tradisional ketika berhadap-hadapan dengan harapan-harapan dan frustrasi yang meningkat: yaitu mundur dan menyerang.

Daftar ini masih bisa diperpanjang lagi. Kebanyakan pengamat akan cenderung setuju dengan Machiavelli bahwa “kaum inovator menciptakan permusuhan dengan mereka yang memperoleh kesejahteraan di bawah orde lama, sedangkan dukungan yang tidak terlalu penuh gairah mengalir dari mereka yang berharap akan berjaya di bawah orde baru… karena manusia pada umumnya tidak mudah percaya, tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada hal-hal baru, kecuali bilamana mereka telah mengujinya sendiri dalam pengalaman” (The Prince). Namun, apapun interpretasi yang benar, satu hal amat pasti: akar-akar masalahnya dalam dan menyebar luas dan kelihatannya akan tetap bertahan untuk beberapa masa mendatang.

Dalam arti yang mendalam bisalah seorang berkata bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut mencerminkan krisis komunikasi yang berurat-berakar di dalam pengelompokan politik, ekonomi dan kultural antara elite dan massa yang telah muncul lebih dari 170 tahun. Pengelompokan ini beralih bentuk menjadi skizofrenia di dalam identitas kultural dan kesadaran sejarah rakyat Iran. Mereka dipecah-pecahkan menjadi dua dunia: dunia keyakinan sekuler dan dunia keyakinan agama, yang berpusat pada simbol-simbol pra-Islam dan Islam untuk memperoleh dukungan ideologi/mitologisnya.

Tulisan pendek ini akan membuat perhitungan kembali mengenai hakekat pengelompokan tersebut. Pertama-tama fokusnya akan diarahkan kepada perspektif sejarah secara umum dan lantas memusatkan diri pada ciri-ciri utama dari sistem komunikasi dualistik yang merupakan sebab dan juga konsekwensi dari alienasi massa terhadap elite yang memerintah.

Titik pusatnya akan diberikan kepada sejarah Persia selama 25 tahun, akan tetapi hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa sejarah rakyat Persia adalah sebuah sejarah yang sangat tua-memang, salah satu dari yang tertua di dunia. Daerah-daerah di sana telah dihuni selama ribuan tahun. Kerajaan Persia pertama, Kerajaan Achaemenides didirikan oleh Cyrus di tahun 533 sebelum Masehi. Dengan demikian Persia telah mengalami hampir 1.000 tahun masyarakat pra-Islam dan lebih dari 1.000 tahun masyarakat Islam sebelum berhadapan dengan prospek modernisasi. Kenangan-kenangan terhadap masa-masa sejarah ini masih kuat tertanam.


* Tulisan ini dikutip dari Inter-Media, Vol. 7, No. 1, Maret 1979, International Institute of Communications, London. Terima kasih diberikan kepada St. Antony’s College, dan Middle East Centre, Oxford, di mana sekarang penulis bekerja sebagai profesor tamu, untuk waktu, ketenangan dan damai, yang diberikan untuk merenung dan menulis.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan