Perspektif Baru Ilmu Ekonomi
Ilmu Ekonomi dinilai gagal menjelaskan berbagai fenomena masyarakat sehingga ia memerlukan bantuan ilmu-ilmu sosial lain untuk menguraikan dan memecahkan persoalan tersebut. Tulisan Ali Sugihardjanto ini berusaha memaparkan krisis ilmu ekonomi dalam perspektif yang luas; juga ajakan untuk mengkajinya dalam “perspektif baru” Ilmu Ekonomi dalam kerangka pendekatan antardisiplin.
Jika kita mengamati krisis ilmu ekonomi sekarang, tercatat adanya beberapa cara untuk memahami krisis tersebut. Bagi sebagian orang, krisis itu dinilai terjadi karena tak adanya sintesa umum sehingga harus dicari metode-metode penelitian baru untuk memecahkannya. Bagi sebagian orang yang lain, hal itu merupakan krisis paradigma yang harus diperbaharui sesuai dengan data terakhir atau krisis ketiadaan semantik dalam teori-teori ekonomi dan lain-lain. Dalam aspek-aspek krisis yang berbeda itu yang jelas ada satu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, yaitu bahwa ilmu ekonomi kontemporer berada di jalan buntu. Tetapi dalam menghadapi situasi krisis itu, kita perlu mengakui adanya kemajuan cukup penting yang telah dicapai oleh ilmu ekonomi sejak awal abad ini. Tentunya tidak bisa diabaikan kemungkinan untuk keluar dari jalan buntu itu, antara lain dengan mengambil ilham dari perdebatan yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu dan evaluasi program penelitian dalam bidang ekonomi.
Mengingat bahwa disiplin ilmu ekonomi mempunyai cabang-cabang dan berbagai ragam spesialisasi mikro (misalnya ekonomi pembangunan, ekonomi industri, ekonomi moneter, ekonomi kesehatan, dan lain-lain) yang dapat menjawab masalah-masalah yang semakin lama semakin terbatas ruang lingkupnya, tentunya bidang-bidang baru tersebut dapat lebih dijelaskan. Dengan demikian kita bisa mengharapkan sejarah akan mencatatnya dalam agenda ekonomi, atau dengan serius merencanakan kerjasama dengan ilmu-ilmu sosial lain. Alternatif kedua inilah yang mendorong penulis untuk melakukan suatu pemikiran tentang “perspektif baru” Ilmu Ekonomi dalam kerangka pendekatan antardisiplin. Objek penelitian ini terutama akan ditekankan pada tiga bagian yaitu perdebatan tahun 1950-an, yang menurut pendapat penulis berhubungan dengan prakarsa metode penelitian antardisiplin; posisi metode antardisiplin di tengah ilmu-ilmu sosial dan ilmu pengetahuan alam; dan contoh sebuah proyek antardisiplin yang didasarkan pada ekonomi dan beberapa catatan yang bisa diperhitungkan sebagai perspektif baru ilmu ekonomi untuk mengatasi krisisnya.
Perdebatan Tahun 50-an: Pencarian Sebuah Kesatuan Metodologis antarilmu-ilmu Sosial
Diagnosa krisis Ekonomi Politik, yang antara lain dikemukakan oleh H. Denis, J. Marshal dan H. Guitton1 di awal tahun 50-an memungkinkan kita untuk kembali pada masalah-masalah utama dalam perdebatan dan pertentangan yang kemudian menyebabkan ditinggalkannya model keseimbangan umum Walras yang diilhami oleh model ilmu fisika Newton. Perdebatan itu antara lain membahas masalah penolakan kesatuan meotodologi dengan ilmu pengetahuan alam dan masalah pencarian kesatuan metodologi baru antara Ekonomi Politik dan Sejarah dan Sosiologi.
Mengenai kesatuan metodologi dengan ilmu pengetahuan alam, I. Walras (1874) bertitik tolak dari gagasan menciptakan suatu ilmu ekonomi sebagai ilmu “alam,” yang bisa dibandingkan dengan Fisika Newton. Sementara itu, mengingat bahwa ekonomi bukan merupakan satu hal yang asing bagi moral dan bahwa campur tangan negara bisa dibenarkan dalam berbagai kesempatan, Walras berkeyakinan kuat bahwa selain Ekonomi yang berdasarkan ilmu pengetahuan, terdapat juga ekonomi sosial yang berdasarkan moral dan ekonomi terapan yang berdasarkan seni. Menurut pendapatnya, ekonomi murni adalah satu-satunya aliran ilmu ekonomi yang bersifat empiris dan sekaligus rasional. Empiris karena berambisi membuat deskripsi yang logis mengenai persaingan bebas, dan rasional karena bekerja dengan menggunakan matematika dalam bentuk perhitungan secara simultan.2
Dari gagasan konstruksi sebuah ilmu ekonomi murni dan didasarkan pada rasionalisme dan individualisme metodologis ini,3 ternyata bahwa teori keseimbangan umum Walras tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh sejumlah besar ekonom kontemporer yang sekarang digolongkan sebagai neo-klasik. Pertalian dengan formalisme Ekonomi ini, sebagai perspektif ilmu ekonomi, menjelaskan mengapa teori keseimbangan umum sejak tahun 1930 dihadapkan pada penyempurnaan dan aksiomatisasi yang tajam, meskipun mendapat kritikan dari T.W. Hutchinson4 pada tahun Memang benar bahwa kritik yang memperlihatkan aspek reduksionis, apriori dan neo-empiris ilmu ekonomi pada zamannya itu, antara lain mendapat jawaban yang bersifat empiris dan instrumentalis yang terutama diperlihatkan oleh pendapat M. Friedman5 pada tahun 1953.
1 H. Guitton, L’object de l’Économie Politique, Paris, Marcel Rivière, 1951; J. Marchal, Cours D’économie Politique, Paris, Librairie de Mèdicis, 1955; H. Denis, La crise de la Pensée Économique, Que sais-je, no.483, PUF, 1951.
2 H. Brochier, Critères de Scientificité en Économie, Encyclopédie Économique, Economica, 1990.
3 Kecuali pada Teori Keynes yang meninggalkan individualisme metodologi, dalam batas-batas di mana fungsi permintaan tidak disimpulkan dari perilaku rasional konsumen, tetapi lebih didasarkan pada hubungan yang diperkirakan ada antara konsumsi global dan pendapatan global.
4 T.W. Hutchinson, The Significance and Basic Postulates of Economic Theory, A.M. Kelly, New York, 1938.
5 M. Friedman, The Methodology of Positive Economics, Essays in Positive Economics, University of Chicago Press, Chicago, 1953.