
The Political Economy of Mountain Java: An Interpretive History, oleh Robert W. Hefner. University of California Press, 1990, 251 halaman, dan tabel, preface, map, gambar, bibliografi, dan index.
APAKAH yang terbayang dalam pikiran kita kalau seseorang berbicara tentang kultur Jawa? Biasanya adalah Jawa Tengah, khususnya kawasan sekitar bekas kraton Mataram (Yogyakarta dan Surakarta). Apakah yang terbayang dalam pikiran kita, kalau seseorang berbicara mengenai agrikultur? Biasanya adalah hamparan sawah berpematang. Bayangan-bayangan tersebut akan lebih stereotype lagi pada banyak peneliti asing yang punya perhatian terhadap Jawa.
Bayangan-bayangan tersebut adalah bayangan sesat yang salah kaprah, dan inilah yang ingin dikoreksi oleh buku ini. Tujuan dari kajiannya dalam buku ini, kata Hefner (hal. 6), adalah untuk meningkatkan kesadaran kita tentang keanekaragaman Jawa, dan tentang sejarah terbentuknya keanekaragaman tersebut.
Kajian Hefner ini memusatkan perhatian pada masyarakat Jawa yang jauh dari “lingkaran kraton”, yaitu masyarakat Jawa di lereng Gunung Bromo, Jawa Timur, dan pada petani yang tidak bertanam padi di sawah, tapi jagung dan singkong di tegalan. Ini adalah satu kajian sejarah sosial-ekonomi pertanian-tanah kering di upland Jawa.
Pertanian Tanah Kering
Palte (The Development of Java’s Rural Uplands in Response to Population Pressure, Fak. Geografi UGM, 1984) adalah salah seorang dari mereka yang menggugah pemikiran kita tentang betapa biasnya kebijakan pembangunan pertanian kita di Jawa selama ini kepada sawah-beririgasi. (Bias ini akan mudah dipahami jika dihubungkan dengan kebijaksanaan pemerintah tentang swasembada pangan). Kita telah mengabaikan satu wilayah yang lebih luas dan lebih bervariasi daripada sawah, dan yang punya potensi ekonomi tidak kalah penting daripada sawah.
Salah satu indikasi dari kekurangan perhatian kita terhadap wilayah pertanian di luar sawah adalah dalam cara Biro Pusat Statistik menyederhanakan semua kawasan tersebut di bawah sebuah rubrik: tegalan. Padahal kalau diperhatikan secara lebih dekat, di samping tegalan, di sana juga ada sistem-sistem pertanian pekarangan, kebun-talun, kebun-campuran, peladangan, plantasi-kecil, dan tumpangsari di hutan negara (Gordon Conway, Laporan Lokakarya Kepas, 1984).
Di Jawa, kajian-kajian tentang nilai ekonomi, ekologi, dan sosial dari pekarangan, meskipun sudah disinggung oleh Raffles sekitar 200 tahun yang lalu, telah dirambah kembali oleh Penny dan Singarimbun (1973), Stoler (1975), dan Lembaga Ekologi Unpad di bawah Soemarwoto (1975). Lembaga yang terakhir ini juga telah memulai kajian tentang kebun-talun dan kebun-campuran, khususnya untuk daerah Jawa Barat. Kajian tentang peladangan biasanya dilakukan di daerah luar Jawa, misalnya akhir-akhir ini oleh Michael Dove pada Orang Kantu’ di Kalimantan. Padahal untuk daerah Jawa orang masih bisa menemukan dan menelitinya di Jabar bagian selatan merentang dari Banten sampai ke Garut. Kajian tentang plantasi-kecil milik penduduk misalnya kebun karet seukuran 0,5 sampai 5,0 hektar, tampaknya masih menunggu peminat dari kalangan ekologi dan sosial.