Masyarakat Jawa secara historis memang terbagi ke dalam kelas-kelas agraris yang terutama didasarkan atas perbedaan penguasaan lahan dan ditandai rantai sejarah komersialisasi yang panjang. Sehingga kesenjangan-kesenjangan dalam penguasaan lahan, kekayaan dan kekuasaan yang terjadi kemudian adalah lebih tepat dilihat sebagai suatu kelanjutan, pengendapan atau bangkitnya kembali kecenderungan-kecenderungan yang telah lama sekali dimiliki.
KETIKA Pangeran Wengker (seorang penguasa Jawa pada abad 14) menyampaikan pengarahan kepada rakyatnya, ia tampaknya telah menyadari akan arti pentingnya peranan kaum tani dan produksi pertanian terhadap keamanan dan keseimbangan kosmis dalam wilayah kekuasaannya. Ditinjau dari segi ekonomi, penduduk pedesaan pada masa itu memang merupakan penyedia bahan makanan utama bagi kerajaan, sekaligus pemasok barang-barang yang diperlukan bagi kepentingan perniagaan antar pulau. Dan dari segi politik, pada loyalitas merekalah otoritas kerajaan sebenarnya bergantung. Dalam amanatnya itu, Pangeran Wengker menguraikan secara jelas tuntutannya terhadap masyarakat pedesaan: mereka harus menjadi penanam padi yang rajin dan sekaligus menjadi rakyat yang setia
* Artikel ini, dalam versi ringkas, pernah dimuat dalam Manfred Oepen dan Wolfang Karcher (eds.), Dinamika Pesantren, Jakarta, P3M, 1988.