Artikel ini merupakan cuplikan dari buku Donald K. Emmerson, Indonesia’s Elite, Political Culture and Cultural Politics, (Ithaca and London: Cornell University Press, 1976). Penulis secara panjang lebar mempersoalkan para elite di Indonesia, khususnya tentang mereka yang duduk dalam pemerintahan pusat dan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, baik mengenai keyakinan dan pandangannya serta pengalaman-pengalaman yang membentuknya. Diolah juga latar belakang perbedaan pandangan dan perbedaan konteks kulturil yang mempengaruhi pola hubungan antara mereka, dan akhirnya pola hubungan antara kedua lembaga yang paling menentukan itu.
Buku ini memilih pendekatan yang unik dari segi kebudayaan politik dan politik kebudayaan dengan menggabungkan teknik analisa kwantitatif dan kwalitatif. Artikel berikut adalah inti-sari yang diolah agak bebas berdasarkan bagian: “Introduction”, Bab 1: “Institutions”, Bab 3: “Samples” dan Bab 4: “Experiences”. Pengolahannya dilakukan oleh Redaksi.—Red.
Pendahuluan
Semua kita terperangkap tiada akhirnya dalam sebuah poros antara apa yang pernah ada (di masa lampau) dan yang bakal terjadi (di masa datang), dan di dalam rentangan antara keduanya tergantunglah pembebasan transisi kita. Kebanyakan orang terpentak ke luar jangkauan waktu. Mereka mencari pelarian dalam masa lampau yang ketinggalan zaman, tua, dan jauh dari masa depan yang memang tidak diresitunya; ada pula yang senantiasa berjuang untuk tetap kontemporer dengan menghindari komitmen kepada keyakinan yang permanen. Akan tetapi kebanyakannya kita seperti Don Quisot dan secara tambal sulam mencoba merubah namun tetap menginginkan yang serupa, sambil terus mencari alasan apa jadinya semestinya kalau . . .
Elite-elite politik suatu bangsa yang besar, dan beraneka ragam kebudayaannya berada dalam versi yang potensial untuk meledak dari dilemma ini. Selain secara pribadi mereka mencari konsistensi antara hari kemarin dan hari esok, mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pencarian dalam kehidupan jutaan orang lainnya. Yang ada dalam kontemplasi introspektif pribadinya, dalam negara yang secara kultural plural sifatnya, menjadi perjuangan untuk pertaruhan yang lebih besar. Kelompok-kelompok yang bermunculan dari pengalaman yang sama dan pandangan yang sama menjadi politis secara terbuka; yang tadinya tidak diorganisir, yang hanya bersifat intuitif dibuat menjadi eksplisit, dan batas-batas serta doktrin muncul untuk merumuskan tuntutan-tuntutan yang hanya boleh menjadi miliknya untuk suatu masa depan yang terancam untuk direnggut kelompok lain. Perubahan bukan lagi suatu kronologi akan tetapi diukur dalam bentuk kekuasaan yang direbut dan yang hilang.