Prisma

Emil Salim: Hadapi Perubahan Iklim seperti Berperang

Prof. Dr. Emil Salim menekankan bahwa perubahan iklim adalah fenomena evolusioner jangka panjang yang dipicu oleh emisi karbon dari industrialisasi berbasis bahan bakar fosil. Meskipun dampaknya nyata—seperti naiknya permukaan laut yang mengancam pulau-pulau di ekuator dan ketidakpastian pangan akibat perubahan curah hujan—isu ini sering terhambat oleh pola pikir jangka pendek, kepentingan kelompok industri (industrialist), serta kegagalan pasar dalam memasukkan biaya lingkungan ke dalam struktur ekonomi. Sebagai solusinya, ia mendorong transisi menuju pembangunan berkelanjutan yang berbasis “kekuatan akal” (brain power) dan teknologi nilai tambah, serta mengajak masyarakat untuk “berperang” menghadapi perubahan iklim dengan beradaptasi secara kreatif, seperti pemanfaatan bioteknologi dan penanaman bakau secara masif di sepanjang garis panta

Prof Dr Emil Salim adalah menteri terlama yang mengurus soal lingkungan (1978-1993). Setelah tidak lagi menjabat menteri, pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan (8 Juni 1930) tetapi berdarah Minang ini, tetap berkutat pada soal lingkungan dengan mengajar di Pascasarjana ilmu lingkungan Universitas Indonesia, serta aktif di Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YBP) dan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati).

Di era Reformasi, Emil kembali ke pusaran kekuasaan sebagai penasihat Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri, serta Ketua Dewan Pertimbangan Presiden merangkap anggota bidang lingkungan dan ekonomi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2010-2014).

Doktor ekonomi lulusan University of California at Berkeley (1964) dan sarjana ekonomi UI (1958) itu juga memangku berbagai jabatan, seperti Anggota Majelis Wali Amanat UI (2007-2012), Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (1995-sekarang), dan anggota pimpinan Yayasan Penelitian tentang Pendapatan Nasional Berkelanjutan. Dia juga pernah memimpin delegasi Indonesia untuk UNFCCC di Bali (2007), Eminent Person Bank Dunia untuk Mengkaji Pengembangan Industri Ekstraktif (2001-2004), dan Chairperson of the 10th United Nations Commission on Sustainable Development (2001-2002).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan