
Alfred Russel Wallace, The Malay Archipelago: The Land of The Orang-Utan and The Bird of Paradise, A Narrative of Travel With Studies of Man and Nature, Edisi Lengkap, New York: Dover Publication, 1922
ALFRED Russel Wallace (1823-1913) seorang pakar ilmu alam pertengahan abad 19, yang sangat dekat dengan Charles Darwin, mengingat sumbangan hasil penelitiannya, yang kemudian disebut sebagai teori “evolusi seleksi-alam”. Penelitiannya dilakukan selama 5 tahun dengan menjelajahi berbagai wilayah yang kini bernama Indonesia dan Malaysia. Seratus dua puluh lima ribu jenis serangga dan satwa lainnya dihimpun dan menjadi dasar karya utamanya yang terbit tahun 1869 berjudul The Malay Archipelago1 yang dipersembahkan kepada Charles Darwin. Setelah lebih dari 10 edisi, hingga kini buku tersebut masih dianggap karya klasik tentang sejarah alam. Tapi Wallace bukan cuma seorang pengamat yang berminat pada burung dan serangga. Sesungguhnya ia juga tertarik pada kolonialisme Belanda, dan kemudian mendekati pusat buminya di Nusantara.
Meskipun begitu, Wallace juga bisa disebut sebagai pengamat yang rabun. Seorang ahli ilmu alam yang punya kecermatan dan ketekunan mengamati flora dan fauna di Nusantara, ternyata pengamat yang menceng (bias) dalam melihat masyarakat non-Eropa dan berbagai pranata politik serta kebudayaan pribumi. Di bidang biologi dan zoologi, ia seorang pengembang (inovator) yang jauh melampaui generasinya; sebaliknya di bidang ilmu sosial ia justeru mengunci pikirannya, terpenjara dalam nilai-nilai Victorian yang sempit. Ia jadi memaklumi kolonialisme Eropa, mengabaikan kenyataan eksploitasi dan ketidakadilan, serta mengganti berbagai fakta empiris dengan stereotip rasial.
Tapi apa gunanya kini mengulas Wallace? Ini terutama karena kemencengan pandangan ilmu sosialnya masih relevan dibicarakan. Di samping nilai-nilai Victorian yang membungkus pandangannya terhadap budaya lain, begitu banyak upaya menteorikan perkembangan ekonomi tetap disimpangkan oleh pandangan ke-Eropaan2 atau oleh Standar Ganda untuk membenarkan keunggulan Barat atas masyarakat dan kebudayaan lain di semua bidang: intelektual, teknologi, seperti juga moral. Arndt dalam kajiannya yang sangat baik akhir-akhir ini menemukan bahwa sejarah gagasan tentang pembangunan ekonomi bermula dari kolonialisme.3 Waktu itu istilah tersebut berarti eksploitasi wilayah jajahan demi keuntungan kekuasaan kolonial. Padahal hingga tahun 1945 belum ada gagasan pembangunan dalam arti meningkatkan kesejahteraan penduduk di negeri-negeri berkembang.
* Saya ucapkan terima kasih pada Tuan Basilius Bengo-Teku karena telah memperkenalkan saya pada karya A.R. Wallace.
1 Semua kutipan di sini mengacu pada edisi lengkap buku ini. Acuan halaman di dalam tanda kurung besar.
2 Catatan kaki ini tidak memuat angka pada teks sumber.
3 Catatan kaki ini tidak memuat angka pada teks sumber.