Tidak mudah menguraikan etos pers Indonesia. Kata etos saya pergunakan dalam artinya yang luas, dalam maknanya sebagai satu sistem tata-nilai moral, tanggungjawab dan kewajiban.
Kita harus meninjau kembali pers Indonesia yang dilahirkan dan berkembang di zaman penjajahan Belanda. Kita harus memahami, bahwa kehadiran pers Indonesia di tanah air kita adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari mulainya perjuangan emansipasi bangsa kita, yang meningkat menjadi perjuangan bangsa. Pers Indonesia tumbuh bersama dengan pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Karena itu sejak semula etosnya didasarkan pada perjuangan membela kebenaran, keadilan dan kemerdekaan, serta kemajuan bangsa. Selama masa penjajahan, Belanda cukup banyak wartawan Indonesia yang ditangkap dan dijatuhi hukum-an penjara oleh penjajah Belanda. Bersama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis Indonesia, pers Indonesia berdiri dan berjuang di barisan perjuangan terdepan bangsa kita menghadapi kekuasaan penjajah.
Setelah Perang Dunia II berakhir, peranan ini diteruskan, setelah mengalami pasang surut selama pendudukan Jepang, ketika pemerintah militer Jepang sepenuhnya menguasai media-massa, dan mempekerjakan banyak tokoh-tokoh pers Indonesia dalam dinas propagandanya. Akan tetapi pendudukan militer Jepang hanya berlangsung singkat saja, dan propaganda militer Jepang yang disiarkan lewat media-massa yang dikuasai kaum militer Jepang segera juga menjadi tidak efektif, karena kenyataan-kenyataan pahit yang dialami rakyat jauh berbeda dari propaganda yang disebarkan pihak Jepang. Lagi pula di mata sebagian terbesar rakyat Indonesia mereka yang bekerjasama dengan Jepang tidaklah dianggap pengkhianat bangsa. Di samping ini bekerjasama dengan Jepang selama waktu yang begitu singkat, tidak merusak jiwa sebagian terbesar orang pers Indonesia yang bekerja dengan media-massa Jepang.
Selama perang kemerdekaan pers Indonesia meneruskan perannya sebagai pelopor perjuangan kemerdekaan bangsa. Bagi banyak wartawan Indonesia di masa itu, hampir tidak ada pembatasan antara perjuangan memakai pena atau bedil sebagai senjata. Wartawan Antara, Syakhruddin, tewas di Singapura, akibat sebuah peluru yang dipegang-pegangnya meledak. Dia ikut aktif mengumpul senjata untuk dikirim ke Indonesia. Wartawan lain ada yang ditangkap oleh Belanda.
Sebuah ciri lain dari pers Indonesia di masa itu adalah orientasinya yang amat besar pada politik. Hal ini tidak perlu mengherankan, karena gerakan kebangsaan dan kemerdekaan kita adalah pula perjuangan politik. Pers Indonesia pun sejak zaman penjajahan punya hubungan-hubungan khas dengan berbagai kelompok politik perjuangan kebangsaan kita. Hal ini menjadi lebih menonjol selama perang kemerdekaan kita, dan kemudian setelah bangsa kita berhasil merebut kemerdekaan kembali, maka partai-partai politik memelihara dan memiliki suratkabar dan penerbitan-penerbitan masing-masing. Partai Masyumi memiliki koran Abadi, partai Nahdlatul Ulama dengan Duta Masyarakat, PKI dengan Harian Rakyat, PNI dengan Suluh Indonesia, PSI meskipun tidak langsung memiliki, tetapi harian Pedoman dianggap sangat dekat dengan partai ini. Di samping koran-koran partai terdapat pula suratkabar yang bebas, tidak terikat pada sesuatu partai.